Oleh: Hamdan Budiman ( Pemred Koran Aceh)
BANDA ACEH, medialatahzan.id — Ada yang janggal dalam cara sejarah Aceh dibaca hari ini.
Aceh dikenal sebagai “Serambi Makkah”, sebuah julukan yang lekat dengan identitas religius dan sejarah Islam di Nusantara. Namun ketika jejak hubungan global Aceh ditelusuri—terutama kaitannya dengan Kekaisaran Turki Usmani—banyak bukti penting justru tersimpan di luar negeri.
Bukan di Banda Aceh.
Bukan di tanah yang pernah menjadi pusat peradaban itu.
Melainkan di arsip Istanbul dan museum-museum Eropa.
Pertanyaannya: mengapa jejak sejarah sebesar itu justru lebih banyak dirawat di luar rumahnya sendiri?
Diplomasi Aceh dan Turki Usmani yang Mulai Terlupakan
Pada abad ke-16, Kesultanan Aceh Darussalam bukan kerajaan kecil di pinggiran dunia. Aceh merupakan kekuatan politik dan perdagangan yang memiliki hubungan langsung dengan Kekaisaran Ottoman, salah satu imperium terbesar pada masanya.
Di era Sultan Selim II, Aceh mengirim utusan ke Istanbul. Hubungan itu bukan relasi bawahan dan penguasa, melainkan kerja sama strategis antarkekuatan Islam.
Isi komunikasi keduanya mencakup:
Permintaan bantuan militer
Penguatan aliansi dunia Islam
Upaya menghadapi dominasi Portugis di Asia Tenggara
Sebagai respons, Ottoman:
Mengirim teknisi dan ahli artileri
Memberikan dukungan strategis
Menjadikan Aceh sebagai titik pengaruh penting di kawasan Asia Tenggara
Relasi ini bukan sekadar simbol diplomatik. Ini adalah koalisi geopolitik yang nyata.
Namun dalam banyak buku sejarah, hubungan besar tersebut sering hanya muncul sebagai catatan kecil di pinggir halaman.
Perang Global yang Direduksi Menjadi Konflik Lokal
Penaklukan Malaka oleh Portugis bukan hanya perebutan pelabuhan dagang. Peristiwa itu merupakan bagian dari perebutan jalur ekonomi dan pengaruh dunia Islam.
Aceh memahami ancaman tersebut. Ottoman pun ikut terlibat dalam upaya menghadang ekspansi kolonial Eropa.
Artinya, Aceh saat itu bukan sekadar kerajaan lokal yang berperang sendiri. Aceh adalah front Asia Tenggara dalam pertarungan global antara kolonialisme Eropa dan kekuatan dunia Islam.
Namun narasi sejarah resmi sering menyederhanakannya menjadi:
“Perlawanan lokal terhadap Portugis”
“Konflik regional”
Penghilangan konteks global ini membuat posisi Aceh tampak kecil, padahal perannya sangat strategis dalam percaturan internasional.
Artefak yang Diasingkan, Sejarah yang Dipindahkan
Jejak hubungan Aceh dan Turki Usmani hari ini justru lebih mudah ditemukan di luar negeri.
Sebagian artefak, arsip, dan dokumen penting tersimpan di museum Eropa maupun perpustakaan Turki. Sementara di Aceh sendiri, banyak generasi muda bahkan tidak mengetahui besarnya hubungan historis tersebut.
Kondisi ini tidak terjadi begitu saja.
Artefak berpindah pada masa kolonialisme
Narasi sejarah ditulis oleh pihak pemenang
Perspektif lokal perlahan kehilangan ruang
Yang hilang bukan hanya benda sejarah, tetapi juga kendali atas cerita tentang diri sendiri.
“Serambi Makkah” dan Penyempitan Identitas Aceh
Julukan “Serambi Makkah” memang terdengar agung. Namun dalam praktiknya, label itu kerap membuat Aceh hanya diposisikan sebagai wilayah religius semata.
Aceh seolah hanya dilihat sebagai:
Pinggiran spiritual
Pintu masuk Islam
Simbol religius kawasan
Padahal secara historis, Aceh pernah menjadi:
Pusat studi Islam
Hub ulama internasional
Penghasil pengetahuan dan diplomasi global
Ketika identitas Aceh dipersempit, maka peran besarnya sebagai aktor dunia ikut memudar.
Siapa yang Diuntungkan dari Narasi Ini?
Pertanyaan ini sulit dihindari.
Ketika:
Arsip penting tersimpan di Istanbul
Artefak berada di museum luar negeri
Sejarah ditulis dari sudut pandang kolonial
Maka yang diuntungkan adalah narasi besar yang menempatkan Nusantara hanya sebagai pinggiran dunia.
Aceh akhirnya lebih sering menjadi objek cerita, bukan subjek yang menceritakan dirinya sendiri.
Mengembalikan Aceh sebagai Subjek Sejarah
Fakta-fakta sejarah yang tersebar sebenarnya menunjukkan satu hal penting:
Aceh bukan sekadar penerima pengaruh Turki Usmani. Aceh adalah mitra strategis yang ikut membentuk arah dunia Islam pada masanya.
Aceh pernah:
Menghubungkan jalur perdagangan internasional
Menjadi pusat ilmu pengetahuan Islam
Mengundang keterlibatan kekuatan global
Berdiri sebagai pusat perlawanan terhadap kolonialisme
Aceh bukan wilayah pinggiran. Aceh pernah menjadi salah satu kompas dunia Islam di Asia Tenggara.
Epilog: Sejarah yang Perlu Direbut Kembali
Hari ini, pertarungan tidak lagi berlangsung di laut dengan meriam dan armada perang.
Pertarungan itu terjadi dalam narasi dan ingatan sejarah.
Selama arsip penting masih tersimpan di luar negeri, selama artefak tercecer di museum asing, dan selama sejarah Aceh ditulis tanpa sudut pandang Aceh sendiri, maka perjuangan itu belum benar-benar selesai.
Sudah saatnya “Serambi Makkah” tidak hanya dikenang sebagai simbol, tetapi dipulihkan kembali sebagai pusat peradaban yang pernah memberi arah bagi dunia.(*)












