Tiga puluh lima tahun silam, seorang pemuda desa menapakkan kaki di Kota Banda Aceh dengan mimpi yang masih sederhana: mengubah nasib. Kota itu menjadi saksi perjalanan panjang hidupnya—jatuh bangun, kerja keras, dan keteguhan hati yang tak pernah padam. Kini usianya mendekati kepala enam, namun semangatnya tetap menyala seperti mula pertama ia merantau dahulu.
Di Banda Aceh, Hamdan Budiman menenun harapan tanpa jeda. Dari lorong-lorong perjuangan itulah ia tumbuh menjadi sosok wartawan yang dikenal produktif menulis opini dan feature, sekaligus piawai memburu berita dari berbagai genre.
Menariknya lagi, berbagai isu aktual yang ia himpun tak hanya berhenti di meja redaksi. Semua ia publikasikan melalui media miliknya sendiri, Koran Aceh.net, yang berdiri di bawah naungan PT Koran Aceh Multimedia sejak 27 Juli 2015.
Setelah menamatkan pendidikan di Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Jurusan Bahasa Indonesia Universitas Syiah Kuala—kini dikenal sebagai USK Darussalam Aceh—pada dekade 1990-an, Hamdan mulai menapaki dunia jurnalistik. Ijazah Sarjana Ahli Madya Pendidikan (A.Md.) yang digenggamnya menjadi pintu awal memasuki profesi yang kemudian membesarkan namanya.
Kemampuan jurnalistiknya mulai terasah ketika menjadi wartawan di Koran Mingguan PERISTIWA, salah satu tabloid yang cukup dikenal di Banda Aceh pada era 1990-an, di tengah dominasi Harian Atjeh Pos dan Serambi Indonesia yang sebelumnya bernama Mimbar Swadaya. Dari sana, pengalaman dan nalurinya sebagai jurnalis terus ditempa.
Nama Hamdan Budiman kemudian semakin dikenal setelah ia juga menjadi wartawan Harian Mimbar Umum Medan, Koran DOBRAK terbitan Medan, hingga Harian Aceh yang kini tak lagi terbit.
Perjalanan panjang itu akhirnya mengantarkan Hamdan pada kehidupan yang lebih mapan. Ayah dari dua putra dan dua putri ini kini dapat menikmati hidup yang tenteram bersama keluarga tercinta. Setelah sekian lama berpindah-pindah tempat tinggal saat awal merantau, kini ia menikmati hari-harinya di rumah sendiri—menikmati sisa usia dengan rasa syukur dan kebahagiaan sederhana.
Merantau ke Banda Aceh
Dengan restu kedua orang tua, Hamdan Budiman berangkat meninggalkan kampung halamannya di Meukek, Aceh Selatan. Sehelai ijazah SMA Labuhan Haji disimpan rapi dalam sebuah ransel lusuh yang berisi beberapa lembar pakaian. Dengan menumpang bus umum, ia berangkat menuju Banda Aceh seorang diri.
Keputusan itu terbilang nekat. Ketika sebagian besar teman-teman seusianya memilih tetap tinggal di desa, Hamdan justru memilih keluar dari zona nyaman. Ia ingin mencoba peruntungan di kota, mengejar cita-cita menjadi mahasiswa Universitas Syiah Kuala, perguruan tinggi paling bergengsi di Aceh kala itu.
Baginya, merantau bukan sekadar meninggalkan kampung halaman, melainkan langkah besar untuk mengubah masa depan.
Sesampainya di Banda Aceh, Hamdan tak ingin kalah nyali meski datang dari desa yang serba terbatas. Dalam hatinya tertanam keyakinan: sekali layar terkembang, pantang surut ke belakang. Ia pun mengikuti ujian masuk perguruan tinggi dengan harapan sederhana—lulus dan diterima menjadi mahasiswa.
Hari pengumuman kelulusan tiba. Namanya tercantum sebagai salah satu peserta yang dinyatakan lulus. Syukur tak mampu ia sembunyikan. Di kamar kos milik temannya tempat ia menumpang sementara, Hamdan langsung bersujud syukur.
Impian menjadi mahasiswa universitas kebanggaan rakyat Aceh akhirnya terwujud.
Namun perjalanan kuliah tidak semudah yang dibayangkan. Kondisi ekonomi keluarga membuat orang tuanya tak mampu sepenuhnya menanggung biaya kuliah dan kebutuhan hidup di kota. Hamdan pun harus memutar otak mencari tambahan penghasilan agar tetap bisa bertahan.
Di tengah kesulitan itu, jalan seolah selalu terbuka bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh menuntut ilmu.
Berbekal sebuah kamera tua yang dibelinya di sebuah toko milik warga Tionghoa di Banda Aceh, Hamdan mulai bergabung dengan komunitas OFAB (Organisasi Foto Amatir Baiturrahman). Di luar jam kuliah, ia menjadi juru foto di halaman Masjid Raya Baiturrahman, mengabadikan momen para pengunjung dari luar daerah yang ingin membawa pulang kenangan dari Banda Aceh.
Dari hasil memotret itulah Hamdan memperoleh tambahan biaya hidup dan kuliah. Sedikit demi sedikit, perjuangannya membuahkan hasil hingga akhirnya ia berhasil meraih gelar Sarjana Ahli Madya Pendidikan.
Kepiawaian Hamdan Budiman dengan pengalaman dan hobbinya berorganisasi sejumlah jabatan pernah dipercayakan kepadanya.
Diantaranya sebagai Sekretaris PWI Cabang Provinsi Aceh, Ketua LSM yang bekerja sama dengan LSM luar Negeri untuk perbaikan ekonomi masyarakat miskin di pedesaan, Sekretaris Koperasi Penjahit Aceh dan beberapa organisasi lainnya.
Orang Tua Hijrah ke Banda Aceh
Hamdan dikenal cerdas membaca peluang hidup. Ketika karier jurnalistiknya mulai menanjak dan kehidupannya perlahan membaik, ia tak melupakan keluarga di kampung halaman.
Perlahan, ia membantu orang tuanya untuk ikut hijrah ke Banda Aceh, mendekatkan keluarga kepada kehidupan yang lebih layak dan penuh harapan baru.
Pak Budiman, ayah kandung Hamdan dan Ibu tercinta bersama adik-adik, tak lagi terpisah oleh jarah jauh, tapi sudah kembali bersama sekeluarga utuh, di Banda Aceh , kota pusat Provinsi Aceh.
Sekedar mengatasi rasa suntuk biasa bekerja sebagai petani di kampung, sesampai di kota Pak Budiman mengisi waktu separoh hari dengan berjualan Tembakau Kerinci di Pasar Aceh. Itulah siasat Hamdan supaya ayahnya betah tinggal dikota yang hiruk pikuk kehidupan kota tiada tertidur siang dan malam.
Sementara ibu mengurus rumah dan menyiapkan kebutuhan kelarga, dan adik-adik Hamdan Budiman dimasukkan ke Sekolah-sekolah sesusai jenjang sekolah saat di kampung. Itu bukti pengabdian Hamdan yang luar biasa kepada keluarga, mungkin tak terpikirkan oleh kebanyakan anak muda seusianya.
Beberapa tahun berselang, Hamdan Budiman mempersunting gadis pujaan hati, Cut Risnawati, gadis kelahiran Lhok Pauh, Manggeng Aceh Selatan dan setelah menikah mendapinginya dalam suka dan duka.
Lama belum dikaruniai momongan, anak penurus generasi yang dirindukan setiap keluarga muda, begitu pula Hamdan dan Cut Risna. Tapii istrinya yang berjiwa besar lalu meralakan Hamdan, suaminya untuk menikahi gadis lain, mantan Sekretaris Hamdan sebagai Ketua LSM, yaitu Nur Hikmah yang kini menjadi ibu dari ke empat anak-anak kesayangan.
Hebatnya, lagi Cut Risnawati sangat baik kepada isteri kedua Hamdan yang dibuktikan saat Nur Hikmah berangkat kerja di pagi hari, anak-anak dengan senang hati diurus ibuk Cut. Itu pula yang disyukuri Hamdan dengan akurnya kedua istri tercinta. (Kasman)












