Aksi Kaninus ke-16 FKG USK: Dari Montasik, Mahasiswa Bawa Ilmu dan Pengabdian ke Tengah Masyarakat

  • Bagikan

ACEH BESAR — Ruang belajar mahasiswa Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Syiah Kuala tidak hanya berada di dalam kampus. Di Montasik, Kabupaten Aceh Besar, pengetahuan tentang kesehatan gigi dan mulut dibawa lebih dekat kepada masyarakat melalui pelayanan dan edukasi.

Itulah semangat yang mewarnai Aksi Kaninus ke-16 yang digelar Jumat, 18 September 2026. Kegiatan tersebut menjadi bagian dari rangkaian Milad ke-65 Universitas Syiah Kuala (USK) dengan tema Bakti Geutanyoe, Seunyum ke Nanggroe”.

Aksi Kaninus menjadi ruang bagi mahasiswa FKG USK untuk mengaplikasikan pengetahuan yang mereka peroleh selama pendidikan sekaligus mengenal lebih dekat kebutuhan masyarakat. Pengabdian tidak ditempatkan sekadar sebagai kegiatan tambahan, melainkan sebagai bagian dari proses pembentukan mahasiswa sebelum mereka memasuki dunia profesi.

Ketua Panitia Aksi Kaninus ke-16, Abdi Reda Wira Pratama, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa FKG USK terhadap masyarakat.

“Melalui kegiatan ini, kami ingin memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat sekaligus menghadirkan senyum terbaik bagi masyarakat Aceh,” ujar Abdi, pada Jum’at, (18/9).

Menurut dia, perjumpaan langsung dengan masyarakat memberikan pengalaman tersendiri bagi mahasiswa. Mereka dapat menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di bangku pendidikan dengan persoalan kesehatan yang ditemukan di lingkungan masyarakat.

Pengabdian menjadi bagian dari pendidikan

Bagi FKG USK, kegiatan semacam ini memiliki arti lebih luas. Mahasiswa kedokteran gigi dipersiapkan bukan hanya untuk memahami ilmu dan keterampilan klinis, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap persoalan kesehatan masyarakat.

Dekan FKG USK, Dr. drg. Zulfan M. Alibasyah, Sp.Perio, mengatakan pihaknya mengapresiasi terselenggaranya Aksi Kaninus ke-16.

Ia berharap pelayanan yang diberikan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat sekaligus menjadi jembatan yang mempererat hubungan antara perguruan tinggi, pemerintah daerah, dan masyarakat.

“Kami sangat mengapresiasi terlaksananya kegiatan Aksi Kaninus ke-16 ini. Kami berharap setiap pelayanan yang diberikan dapat memberikan manfaat bagi masyarakat,” kata Zulfan.

Ia juga berharap kerja sama yang terbangun tidak berhenti setelah kegiatan selesai. Menurut dia, kolaborasi antara kampus, pemerintah, dan masyarakat perlu terus dikembangkan agar kontribusi perguruan tinggi dapat dirasakan lebih luas.

Harapan itu menjadi penting karena persoalan kesehatan masyarakat tidak selalu dapat diselesaikan melalui satu kegiatan. Edukasi, pelayanan, dan kesinambungan kerja sama dibutuhkan agar pengetahuan mengenai kesehatan gigi dan mulut dapat terus tumbuh di masyarakat.

Mahasiswa didorong turun dari ruang akademik

Wakil Rektor Bidang Kemahasiswaan dan Kewirausahaan USK, Prof. Dr. Rina Suryani Oktari, S.Kep., M.Si., FRSPH, yang mewakili Rektor USK, menempatkan Aksi Kaninus sebagai bagian dari proses pembentukan karakter mahasiswa.

Menurut Rina, mahasiswa memiliki peran yang lebih luas daripada sekadar mengejar capaian akademik.

“Mahasiswa tidak hanya dituntut untuk aktif dalam bidang akademik, tetapi juga harus berani bergerak, berkarya, dan memberikan kontribusi nyata bagi masyarakat,” ujarnya.

Melalui kegiatan pengabdian, mahasiswa berhadapan langsung dengan masyarakat. Di ruang itulah kemampuan akademik bertemu dengan kebutuhan sosial.

Pengalaman tersebut diharapkan membentuk mahasiswa yang tidak hanya menguasai bidang keilmuan, tetapi juga memiliki kepedulian dan keberanian untuk mengambil bagian dalam persoalan yang dihadapi masyarakat.

Aceh Besar membuka ruang kolaborasi

Pemerintah Kabupaten Aceh Besar menyambut kegiatan Aksi Kaninus ke-16 sebagai bagian dari kontribusi perguruan tinggi dalam membantu masyarakat.

Bupati Aceh Besar yang diwakili Asisten II Bidang Perekonomian dan Pembangunan Sekretariat Daerah Aceh Besar, H. Muhammad Ali, S.Sos., M.Si., menyampaikan apresiasi kepada USK, khususnya FKG, atas pelayanan kesehatan gigi dan mulut yang diberikan.

“Kami dari Pemerintah Daerah Aceh Besar sangat mengapresiasi dan berterima kasih kepada Universitas Syiah Kuala, khususnya Fakultas Kedokteran Gigi, yang telah memberikan kontribusi nyata kepada masyarakat Aceh Besar,” ujarnya.

Muhammad Ali mengatakan kesehatan gigi merupakan bagian penting dalam menunjang kenyamanan dan aktivitas masyarakat sehari-hari.

Ia berharap kegiatan serupa dapat dilakukan secara berkelanjutan sehingga manfaatnya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat di satu lokasi, tetapi dapat menjangkau wilayah Aceh Besar lainnya.

Sementara itu, Pemerintah Aceh melihat kegiatan tersebut dari sisi pembentukan generasi muda.

Gubernur Aceh yang diwakili Kepala Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat Aceh, Dr. Drs. H. Yusrizal Zainal Abidin, M.Si., mengatakan kegiatan pengabdian menjadi salah satu sarana menumbuhkan kepedulian sosial mahasiswa.

“Kegiatan seperti Aksi Kaninus ke-16 ini tidak hanya membentuk generasi yang cerdas secara akademik, tetapi juga menumbuhkan kepedulian sosial dan kepekaan terhadap kebutuhan masyarakat,” katanya.

Menurut Yusrizal, pendidikan tinggi tidak berhenti pada pengembangan ilmu pengetahuan. Perguruan tinggi juga mempunyai tanggung jawab dalam membentuk karakter generasi muda agar mampu memberikan manfaat kepada masyarakat.

Kerja sama tak berhenti pada seremoni

Komitmen untuk menjaga keberlanjutan kerja sama kemudian ditandai dengan penandatanganan Implementation of Agreement (IoA) antara FKG USK dan Pemerintah Kabupaten Aceh Besar.

Dokumen tersebut ditandatangani Dekan FKG USK Dr. drg. Zulfan M. Alibasyah bersama Bupati Aceh Besar yang diwakili Asisten II Muhammad Ali.

Penandatanganan IoA menjadi bagian dari penguatan kerja sama kedua pihak dalam mendukung pelaksanaan kegiatan dan membuka ruang bagi keberlanjutan kolaborasi.

Pembukaan Aksi Kaninus ke-16 kemudian ditandai dengan penyatuan dua keping puzzle. Dekan FKG USK bersama Kepala Biro Keistimewaan dan Kesejahteraan Rakyat Aceh yang mewakili Gubernur Aceh menyatukan kedua keping tersebut sebagai simbol sinergi.

Puzzle itu menggambarkan bahwa pengabdian kepada masyarakat membutuhkan kerja bersama. Perguruan tinggi memiliki ilmu dan sumber daya manusia, pemerintah memiliki peran dalam membangun dukungan, sedangkan masyarakat menjadi bagian utama dari tujuan pengabdian.

Dalam momentum Milad ke-65 USK, Aksi Kaninus ke-16 dengan demikian tidak hanya menjadi kegiatan mahasiswa FKG. Ia menjadi gambaran bagaimana perguruan tinggi berusaha membawa pengetahuan keluar dari lingkungan akademik dan mendekatkannya kepada masyarakat.

Dari Montasik, pesan itu disampaikan melalui tema yang sederhana tetapi kuat: Bakti Geutanyoe, Seunyum ke Nanggroe.”

Bakti bukan hanya tentang hadir di tengah masyarakat. Ia juga tentang memastikan ilmu yang dipelajari di kampus memiliki manfaat ketika kembali kepada masyarakat.

Dan senyum yang hendak dihadirkan melalui Aksi Kaninus bukan sekadar simbol perayaan Milad USK ke-65, melainkan pengingat bahwa pendidikan tinggi pada akhirnya memiliki tanggung jawab sosial kepada lingkungan tempat ia tumbuh dan berkembang.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *