Opini :
Tarmizi, SH
( Direktur Eksekutif
LSM Pusat Pengkajian Aceh Strategis)
Kerusakan hutan di Aceh Besar akibat pembalakan liar telah menimbulkan dampak ekologis yang sangat serius. Hilangnya tutupan hutan tidak hanya merusak keseimbangan alam, tetapi juga mengancam kehidupan masyarakat yang selama ini bergantung pada keberadaan hutan sebagai sumber air dan penyangga lingkungan.
Dalam beberapa tahun terakhir, masyarakat Aceh Besar semakin sering menghadapi kekeringan ekstrem. Sawah-sawah yang bergantung pada aliran Krueng Aceh dan Krueng Jreu mengalami kekurangan air, menyebabkan penurunan produksi pertanian bahkan gagal panen. Di kawasan Blang Tamak, Kecamatan Kuta Baro, kondisi kekeringan pernah menyebabkan hasil panen padi menghitam dan kualitasnya menurun drastis.
Dampak yang sama juga dirasakan para peternak. Di kawasan Kuta Malaka dan Samahani, rumput yang menjadi sumber pakan ternak tumbuh kerdil ketika musim kemarau tiba. Berkurangnya sumber mata air akibat rusaknya hutan di kawasan pegunungan Samahani telah memperburuk kondisi peternakan rakyat.
Kerusakan hutan di kawasan Gunung Seulawah juga menyebabkan berkurangnya debit air yang selama ini mengaliri Desa Beuruneut, Lampanah Leungah, dan sejumlah wilayah di Kecamatan Seulimum. Akibatnya, masyarakat kesulitan menggarap sawah, pohon-pohon buah mengalami kekeringan, dan berbagai komoditas pertanian mengalami gagal panen.
Di bagian selatan Aceh Besar, kerusakan hutan turut memengaruhi ketersediaan air bagi wilayah Indrapuri, Montasik, Seulimum, Kuta Baro, Darul Imarah, Darul Kamal, Lhoknga, Leupung, hingga Lhong. Seluruh kawasan tersebut sangat bergantung pada keberadaan hutan yang membentang di jalur Jantho–Lamno.
Hutan Jalur Jantho–Lamno: Penyangga Kehidupan Aceh Besar
Sebagian besar wilayah pertanian Aceh Besar bergantung pada kondisi hutan yang berada di sepanjang jalur Jantho–Lamno. Di sebelah utara kawasan tersebut terbentang hamparan persawahan yang menjadi sumber pangan utama masyarakat Aceh Besar dan Banda Aceh.
Ironisnya, kawasan hutan yang sangat penting ini justru terus mengalami pembalakan liar. Penebangan pohon berlangsung siang dan malam, menyisakan kerusakan yang semakin meluas. Bahkan di sejumlah lokasi, pembukaan lahan telah menyebabkan kawasan perbukitan menjadi gundul dan kehilangan fungsi ekologisnya.
Saat ini para pembalak liar tidak lagi hanya menebang pohon di dataran tinggi. Mereka telah masuk ke kawasan lembah yang selama ini sulit dijangkau. Dengan menggunakan sistem katrol sederhana berbahan roda kendaraan, kayu-kayu hasil tebangan ditarik ke atas untuk kemudian dijual.
Kondisi tersebut terjadi hampir di seluruh kawasan pegunungan Aceh Besar, mulai dari Blang Bintang hingga Krueng Raya. Pohon-pohon besar yang dahulu mendominasi kawasan tersebut kini semakin langka. Bahkan beberapa jenis kayu bernilai tinggi seperti cendana nyaris hilang dari wilayah ini.
Yang lebih memprihatinkan, aktivitas penebangan berlangsung tanpa disertai upaya penanaman kembali. Hutan terus berkurang, sementara program reboisasi masih sangat terbatas.
Reboisasi: Sebuah Kebutuhan Mendesak
Jika Aceh Besar ingin mempertahankan sumber air, ketahanan pangan, dan keseimbangan lingkungan pada masa depan, maka reboisasi harus menjadi agenda prioritas bersama.
Kawasan yang perlu menjadi fokus penghijauan antara lain:
Hutan jalur Jantho–Lamno.
Kawasan Gunung Seulawah.
Kawasan pegunungan Blang Bintang hingga Lampanah Leungah.
Kawasan Lamteuba dan daerah-daerah tangkapan air lainnya.
Atas dasar keprihatinan tersebut, LSM Pusat Pengkajian Aceh Strategis merancang Program Reboisasi Hutan Aceh Besar yang dilaksanakan secara bertahap dan berkelanjutan.
Jenis tanaman yang akan ditanam meliputi jati, mahoni, meranti, medang, dan berbagai jenis kayu pertukangan lainnya yang memiliki nilai ekonomi sekaligus fungsi konservasi. Penanaman pohon-pohon tersebut diharapkan dapat mengurangi tekanan terhadap hutan alam karena kebutuhan kayu masyarakat dapat dipenuhi dari kawasan budidaya.
Selain itu, pohon nira akan diprioritaskan sebagai sumber pendapatan masyarakat. Pada kawasan yang berdekatan dengan permukiman akan ditanam tanaman produktif seperti pinang, kopi, kakao, alpukat, mangga, durian, rambutan, dan langsat guna meningkatkan kesejahteraan warga sekitar.
Menjaga Air, Menyelamatkan Pangan
Gerakan penghijauan bukan sekadar menanam pohon. Reboisasi merupakan investasi jangka panjang untuk menjaga ketersediaan air, melindungi lahan pertanian, mencegah bencana ekologis, serta memperkuat ketahanan pangan daerah.
Hutan yang sehat akan menjadi penyangga kehidupan. Ia menyimpan air pada musim hujan dan melepaskannya secara perlahan saat musim kemarau. Tanpa hutan, ancaman kekeringan, banjir, dan longsor akan semakin sering terjadi.
Program ini direncanakan berlangsung selama lima tahun dengan target penanaman sekitar 10 juta pohon pada lahan seluas 250.000 hektare. Pelaksanaannya melibatkan aktivis lingkungan dan masyarakat setempat sehingga sekaligus membuka lapangan pekerjaan baru bagi warga.
Program Pangan dan Pemberdayaan Ekonomi
Reboisasi akan diintegrasikan dengan program pemberdayaan masyarakat melalui pengembangan pertanian hortikultura di lahan sekitar 5.000 hektare di kawasan Jantho–Lamno.
Komoditas yang akan dikembangkan antara lain kentang, tomat, cabai, bawang, pisang, dan berbagai tanaman hortikultura lainnya. Program ini diharapkan mampu meningkatkan pendapatan masyarakat sekaligus menciptakan pusat-pusat ekonomi baru di kawasan pedalaman Aceh Besar.
Pengembangan Peternakan dan Industri Turunan
Sebagai program pendukung, akan dikembangkan budidaya sapi dan domba yang terintegrasi dengan kegiatan penghijauan. Kotoran ternak dimanfaatkan sebagai pupuk organik untuk mendukung pertumbuhan tanaman reboisasi dan hortikultura.
Selain itu, pengembangan sapi perah dan domba perah diharapkan mampu menghasilkan produk susu yang dapat dipasarkan secara luas. Dalam jangka panjang, peningkatan produksi susu dapat mendorong lahirnya industri pengolahan susu yang berorientasi pada pasar nasional bahkan ekspor.
Budidaya domba juga membuka peluang pengembangan industri wol. Bulu domba dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai tambah seperti kain, selimut, karpet, dan bahan tekstil lainnya yang berpotensi menciptakan lapangan kerja baru.
Program ini turut mencakup pengembangan peternakan lebah pada lahan sekitar 1.000 hektare. Produksi madu diharapkan menjadi salah satu komoditas unggulan yang mampu menembus pasar nasional dan internasional.
Penutup
Menyelamatkan hutan Aceh Besar berarti menyelamatkan sumber air, pertanian, peternakan, dan masa depan generasi mendatang. Reboisasi bukan lagi pilihan, melainkan kebutuhan mendesak yang harus dilakukan secara bersama-sama oleh pemerintah, masyarakat, dunia usaha, dan seluruh elemen bangsa.
Jika kerusakan hutan terus dibiarkan, maka krisis air dan pangan akan menjadi ancaman nyata bagi Aceh Besar. Sebaliknya, jika penghijauan dilakukan secara serius dan berkelanjutan, maka hutan akan kembali menjadi sumber kehidupan yang menopang kesejahteraan masyarakat untuk puluhan bahkan ratusan tahun ke depan.(*)





