Menepi Sejenak di Masjid Terapung An-Nur, Menikmati Ibadah dalam Pelukan Samudra Hindia

  • Bagikan

ACEH SELATAN — Debur ombak yang pecah di bawah lantai masjid berpadu dengan semilir angin dari Teluk Tapaktuan, menghadirkan ketenangan yang seolah menyentuh relung jiwa. Di tepian Samudra Hindia itulah Masjid Terapung An-Nur, atau yang dikenal pula sebagai Masjid Jamik Apung Tapaktuan, berdiri anggun menjadi permata wisata religi di Kabupaten Aceh Selatan.

Berlokasi di kawasan RTH Taman Pala Indah, Jalan Cut Nyak Dhien, Kecamatan Tapaktuan, masjid ini bukan sekadar tempat menunaikan ibadah. Ia menjadi persinggahan hati bagi para musafir yang melintasi jalur barat-selatan Aceh, tempat melepas penat sekaligus meresapi damai yang ditawarkan alam.

Dari kejauhan, bangunan masjid tampak bak terapung di atas permukaan laut. Hamparan biru Samudra Hindia yang luas membentang di hadapan mata berpadu dengan gugusan pegunungan hijau di kejauhan, menciptakan panorama yang memikat dan menenteramkan.

Bagi banyak pengunjung, beribadah di Masjid Terapung An-Nur menghadirkan pengalaman yang berbeda. Saat azan berkumandang, suara ombak seakan ikut bersahut-sahutan, menghadirkan nuansa spiritual yang begitu dekat dengan kebesaran Sang Pencipta.

Amanda, seorang pengunjung asal Blangpidie, mengaku terpukau saat pertama kali singgah di masjid tersebut. Menurutnya, suasana yang tercipta di sana membuat siapa saja betah berlama-lama menikmati setiap hembusan angin dan desir ombak.

“Begitu tiba, saya langsung kagum karena pemandangannya luar biasa indah. Jarang ada masjid yang berdiri menghadap laut seperti ini. Duduk di teras sambil mendengar ombak membuat hati terasa sangat tenang,” ujar Amanda.

Awalnya, ia hanya berniat beristirahat sejenak dalam perjalanan menuju Banda Aceh. Namun pesona Masjid Terapung An-Nur membuat langkahnya tertahan lebih lama untuk menikmati keindahan kawasan RTH Taman Pala Indah.

“Ini bukan hanya tempat untuk salat, tetapi juga ruang untuk menenangkan pikiran. Rasanya siapa pun yang singgah ke sini pasti ingin kembali lagi,” tambahnya.

Masjid Terapung An-Nur dibangun dengan ukuran utama sekitar 25 x 25 meter dan mampu menampung hingga 200 jemaah. Selain ruang salat yang nyaman, tersedia pula fasilitas penunjang seperti area wudhu, toilet umum, dan lahan parkir yang luas bagi para pengunjung.

Letaknya yang berada tepat di tepi jalur lintas utama Aceh menjadikan masjid ini sebagai titik singgah favorit para pelintas. Banyak pengendara memilih berhenti untuk menunaikan salat, melepas lelah, sekaligus menikmati panorama laut Tapaktuan yang memesona.

Menjelang senja, kawasan sekitar masjid semakin hidup. Anak-anak berlarian di area Ruang Terbuka Hijau, sementara wisatawan sibuk mengabadikan momen dengan latar laut dan bangunan masjid yang berdiri teduh di atas air.

Perpaduan antara keelokan alam dan nuansa religius menjadikan Masjid Terapung An-Nur lebih dari sekadar rumah ibadah. Ia adalah tempat di mana hati belajar kembali tentang ketenangan, tentang syukur, dan tentang indahnya mendekat kepada Tuhan di tengah pelukan alam.

Di tempat ini, doa-doa terasa mengalir bersama debur ombak, menyatu dengan angin laut yang berembus perlahan, menghadirkan damai yang sukar dilukiskan dengan kata-kata. (Adv)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *