PIDIE — Langit pagi di Kecamatan Tangse masih diselimuti kabut tipis ketika roda kendaraan mulai menembus jalan berliku menuju kawasan Beungga. Udara dingin pegunungan perlahan menyusup melalui sela jendela mobil, membawa aroma tanah basah dan dedaunan hutan yang nyaris tak lagi ditemukan di kota-kota besar.
Perjalanan menuju Pemandian Air Panas Beungga memang tidak singkat. Namun justru di sanalah letak keistimewaannya. Semakin jauh meninggalkan pusat Kota Sigli, suasana perlahan berubah. Kebisingan kendaraan mulai menghilang. Tidak ada deretan gedung tinggi, lampu reklame, ataupun suara klakson yang saling bersahutan.
Yang tersisa hanyalah alam—tenang, hijau, dan terasa begitu hidup.

Hamparan perbukitan berdiri megah di sepanjang perjalanan. Pepohonan tumbuh rapat di sisi jalan, sementara sungai kecil mengalir jernih membelah lembah. Sesekali terlihat warga melintas dengan sepeda motor sambil membawa hasil kebun. Waktu di Tangse seakan berjalan lebih lambat dibanding hiruk-pikuk kehidupan kota yang serba tergesa.
Di balik ketenangan itulah tersembunyi sebuah wisata alam yang kini mulai dikenal banyak orang: Pemandian Air Panas Beungga.
Dari kejauhan, kepulan uap putih tampak naik dari sela bebatuan. Gemericik air berpadu dengan desir angin pegunungan, menciptakan suasana yang menenangkan sejak langkah pertama tiba di lokasi. Udara dingin langsung bertabrakan dengan hangatnya air yang keluar alami dari perut bumi.
Sensasinya menghadirkan rasa nyaman yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
Beberapa pengunjung tampak merendam tubuh sambil memejamkan mata menikmati hangatnya air. Sebagian lainnya duduk santai di tepian kolam sambil menyeruput kopi panas. Tidak ada musik keras, tidak ada keramaian berlebihan. Tempat itu menghadirkan ketenangan sederhana yang justru terasa mewah di tengah kehidupan modern.
“Orang yang datang ke sini kebanyakan memang ingin menenangkan pikiran. Mereka ingin jauh dari suasana kota yang ramai,” ujar Mahyudin (46), warga setempat, Kamis, 28 Mei 2026.
Menurut Mahyudin, keindahan utama Pemandian Air Panas Beungga bukan hanya terletak pada air panas alaminya, melainkan pada suasana alam yang masih sangat terjaga. Hingga kini kawasan tersebut belum dipenuhi bangunan modern yang mengubah wajah alam.
Pepohonan besar masih berdiri rindang di sekitar lokasi. Kabut turun perlahan setiap pagi dan sore, menciptakan pemandangan yang membuat siapa saja betah berlama-lama.
“Kalau sudah sore, suasananya sangat indah. Udara semakin dingin, kabut turun dari bukit, lalu orang berendam di air panas. Itu yang membuat tempat ini berbeda,” katanya.
diingatkan bahwa kebahagiaan kadang hadir dalam bentuk paling sederhana: duduk tenang di tengah alam, merasakan hangatnya air dari perut bumi, lalu melupakan sejenak segala beban kehidupan.
Pemandian Air Panas Beungga bukan sekadar tempat wisata. Ia adalah ruang sunyi bagi siapa saja yang ingin beristirahat dari kebisingan dunia.(ADV).












