ACEH BARAT DAYA — Di bawah langit teduh Blangpidie, Kompleks Makam Pahlawan Teungku Peukan berdiri dalam balutan suasana hening yang sarat makna. Angin yang berembus pelan di halaman Kompleks Masjid Jamik Baitul Adhim seakan membawa kembali kisah perjuangan rakyat Aceh melawan kolonial Belanda puluhan tahun silam. Tempat itu kini bukan sekadar situs sejarah, tetapi juga ruang ziarah yang menghadirkan ketenangan batin bagi setiap pengunjung.
Nuansa itulah yang dirasakan Syaila, pengunjung asal Subulussalam, saat menapakkan kaki di kompleks makam bersejarah tersebut. Dengan langkah perlahan, ia memandangi tugu penghormatan dan deretan makam yang tampak bersih serta terawat rapi. Keheningan di sekitar masjid menghadirkan suasana khidmat yang membuatnya larut dalam renungan sejarah.

“Datang ke sini membuat saya lebih menghargai perjuangan para pahlawan yang dulu berjuang demi rakyat Aceh,” ujar Syaila saat ditemui di Kompleks Makam Teungku Peukan, Rabu (20/5/2026).
Makam Teungku Peukan berada di halaman depan Kompleks Masjid Jamik Baitul Adhim, Jalan Kesehatan No.83, Kuta Tuha, Kecamatan Blangpidie. Situs tersebut menjadi salah satu destinasi wisata religi dan sejarah yang dikenal luas di Aceh Barat Daya.
Di kompleks itu, Teungku Peukan dimakamkan berdampingan dengan lima pengikut setianya yang gugur dalam pertempuran melawan kolonial Belanda pada 11 September 1926. Nama Teungku Peukan sendiri dikenang sebagai ulama kharismatik sekaligus panglima perang yang memimpin perlawanan rakyat Aceh dengan keberanian dan semangat yang tak pernah padam.
Bagi Syaila, perjalanan menuju makam itu berawal dari rasa penasaran setelah mendengar kisah perjuangan Teungku Peukan dari keluarga dan media sosial. Keinginan untuk melihat langsung jejak sejarah itu membawanya datang dari Subulussalam ke Blangpidie.
Menurutnya, suasana di kawasan makam menghadirkan rasa damai yang sulit dijelaskan. Di tengah keteduhan halaman masjid, ia membayangkan bagaimana para ulama dan pejuang Aceh dahulu mempertaruhkan jiwa demi mempertahankan tanah kelahiran mereka.
“Ketika melihat makam ini secara langsung, saya membayangkan betapa besar pengorbanan mereka untuk Aceh,” katanya lirih.
Di sekitar kompleks, sejumlah peziarah tampak menundukkan kepala dalam doa. Sebagian lainnya mengabadikan momen di dekat tugu penghormatan, sementara beberapa pengunjung memilih duduk santai menikmati kesejukan sore yang menyelimuti area masjid.
Syaila beberapa kali berhenti untuk membaca tulisan di sekitar makam sambil mendengarkan kisah yang dituturkan masyarakat setempat. Baginya, tempat itu bukan hanya tujuan wisata religi, melainkan jendela yang membuka kembali lembaran perjuangan rakyat Aceh.
“Tempat seperti ini penting dijaga agar generasi muda tidak kehilangan ingatan tentang sejarah bangsanya,” ungkapnya.
Ia juga mengaku kagum melihat kondisi kompleks makam yang tetap terawat dengan baik. Menurutnya, menjaga situs sejarah berarti merawat ingatan tentang perjuangan dan pengorbanan para pahlawan.
“Kalau situs sejarah seperti ini terus dirawat, semakin banyak orang yang datang untuk mengenal sejarah Aceh lebih dekat,” tuturnya.
Menjelang senja, cahaya matahari yang mulai meredup menyelimuti Kompleks Makam Teungku Peukan dengan nuansa yang semakin teduh. Perpaduan antara nilai religius dan jejak sejarah menghadirkan pengalaman yang tak hanya menenangkan hati, tetapi juga membangkitkan rasa hormat kepada para pejuang masa lalu.
Bagi Syaila, kunjungan ke Makam Teungku Peukan bukan sekadar perjalanan wisata religi, melainkan pengalaman batin yang meninggalkan kesan mendalam.
“Menurut saya tempat ini sangat berharga karena mengingatkan kita pada jasa besar para pejuang Aceh,” katanya.
Kini, Makam Pahlawan Teungku Peukan terus menjadi salah satu daya tarik wisata religi dan sejarah di Aceh Barat Daya. Di tengah suasana yang damai, situs itu tetap hidup sebagai pengingat akan semangat perjuangan yang pernah mengalir kuat di tanah Aceh. (Adv)












