PIDIE — Langit siang membentang bening ketika kendaraan yang ditumpangi Mona Syarifah Dewi (20) melaju perlahan menuju Kecamatan Keumala, Kabupaten Pidie. Di sepanjang perjalanan, hamparan sawah menghijau terbuka luas di kiri dan kanan jalan, seolah membentangkan permadani alam yang menenangkan mata.
Udara pedesaan yang sejuk mulai menyapa sejak roda kendaraan memasuki kawasan itu.
Minggu, 24 Mei 2026, menjadi hari yang membekas bagi Mona. Bersama keluarganya, ia datang untuk menikmati wajah alam Keumala—sebuah kawasan di Kabupaten Pidie yang menyimpan keteduhan, panorama hijau, dan denyut kehidupan desa yang masih terjaga alami.
“Baru di perjalanan saja hati rasanya sudah tenang. Sawahnya luas, udaranya segar, suasananya damai sekali,” ujar Mona sambil menatap bentang hijau yang bergulung di kejauhan.

Aceh memang seolah tak pernah kehabisan pesona. Provinsi di ujung barat Pulau Sumatera itu dianugerahi garis pantai panjang, pegunungan hijau, dan hutan tropis yang memanjakan pandangan. Namun, di balik keelokan laut dan pantainya, Aceh juga menyimpan lanskap pedesaan yang menghadirkan ketenangan—dan Keumala adalah salah satu kepingan indahnya.
Kecamatan yang berjarak sekitar dua puluh menit dari Kota Sigli itu menjadi tempat berlabuh bagi masyarakat yang ingin menjauh sejenak dari riuh perkotaan. Alamnya masih terjaga: sungai-sungai mengalir jernih, perbukitan berdiri teduh, serta wisata air yang tumbuh di sekitar bendungan dan saluran irigasi Keumala.
Bagi Mona, Keumala menghadirkan suasana yang berbeda dibandingkan tempat-tempat wisata lain yang pernah ia kunjungi. Tidak ada hiruk-pikuk yang melelahkan, tidak pula keramaian yang menyesakkan. Yang terdengar hanya desir angin, gemericik air, dan kehidupan desa yang berjalan perlahan dalam ritmenya sendiri.
Salah satu tempat yang ia kunjungi hari itu ialah kawasan wisata air atau waterpark Keumala yang berada di dekat bendungan dan aliran irigasi. Kawasan tersebut dipadati pengunjung, terutama keluarga yang membawa anak-anak menikmati akhir pekan dalam suasana sederhana namun hangat.
Di sekeliling lokasi, sawah-sawah hijau membingkai pemandangan dengan begitu menawan. Air irigasi mengalir jernih, memantulkan cahaya langit dan menghadirkan kesejukan yang menenangkan jiwa. Sebagian pengunjung memilih duduk santai di tepian sambil menikmati panorama alam yang terbentang luas.
“Tempat ini cocok sekali untuk melepas penat. Kita bisa menikmati alam sekaligus bermain air,” kata Mona.
Keumala bukan hanya dikenal karena keelokan alamnya, tetapi juga menyimpan kisah yang hidup dari masa lampau. Menurut cerita masyarakat terdahulu, nama Keumala berasal dari cahaya senja yang memantul ke langit dari sebuah kolam di Desa Jijiem usai hujan turun. Pantulan cahaya itu memancar keemasan menjelang sore, menghadirkan pemandangan yang begitu indah. Dari cahaya itulah nama Keumala—yang bermakna cahaya—dipercaya berasal.
Kisah itu masih terpelihara hingga kini. Bagi masyarakat setempat, Keumala bukan sekadar nama wilayah, melainkan simbol keindahan alam yang diwariskan lintas generasi.
Sepanjang perjalanan menuju kawasan wisata, Mona juga menyaksikan aktivitas warga yang sebagian besar menggantungkan hidup pada sawah dan ladang. Keumala dikenal sebagai salah satu lumbung padi di Kabupaten Pidie. Hamparan persawahan yang luas bukan hanya menjadi sumber penghidupan, tetapi juga menghadirkan lanskap yang memanjakan mata
Selain pertanian, Keumala juga dianugerahi sumber air yang melimpah. Sungai-sungai yang mengalir dari kawasan pegunungan menjadi denyut kehidupan masyarakat sekaligus daya tarik wisata alam yang memikat.
Di beberapa sudut kawasan, pengunjung dapat menikmati kejernihan sungai dengan latar pegunungan hijau yang berdiri anggun. Banyak wisatawan lokal datang sekadar untuk bermain air, berpiknik, atau menikmati keheningan alam yang masih terjaga.
Bagi Mona, suasana pedesaan di Keumala menjadi bagian yang paling membekas. Menurutnya, tempat itu menghadirkan pengalaman penyembuhan yang sederhana, namun mampu menetap lama di hati.
“Kadang kita tidak perlu tempat mewah untuk merasa tenang. Melihat sawah, sungai, dan pegunungan seperti ini saja sudah cukup membuat pikiran lebih rileks,” ujarnya sambil tersenyum.
Menjelang senja, langit Keumala perlahan berubah warna. Cahaya matahari meredup lembut, memantul ke permukaan air irigasi dan hamparan sawah, menciptakan nuansa keemasan yang syahdu. Pemandangan itu membuat suasana semakin terasa damai, seolah waktu berjalan lebih lambat di tempat tersebut.
Beberapa pengunjung tampak duduk menikmati sore, sementara anak-anak masih bermain air dengan riang. Angin senja berembus pelan, membawa aroma tanah basah dan rerumputan yang khas.
Keindahan Keumala menjadi gambaran kecil tentang betapa kayanya alam Aceh. Bukan hanya menghadirkan panorama yang memikat mata, tetapi juga menawarkan ketenangan yang perlahan mulai langka di tengah kehidupan modern yang serba tergesa.
Bagi Mona Syarifah Dewi, perjalanan ke Keumala pada Minggu, 24 Mei 2026 itu bukan sekadar kunjungan wisata biasa. Di antara hamparan sawah, aliran sungai, dan kisah cahaya senja yang melahirkan nama Keumala, ia menemukan sepotong keteduhan yang membuatnya ingin kembali suatu hari nanti. (adv)












