ACEH BARAT — Di jantung Kota Meulaboh, berdiri anggun sebuah mahakarya religi yang tak hanya memancarkan kemegahan arsitektur, tetapi juga menghadirkan keteduhan bagi siapa saja yang menapakkan kaki di pelatarannya. Masjid Agung Baitul Makmur kini menjelma menjadi destinasi wisata religi favorit di Aceh Barat, memikat hati para pengunjung dari berbagai daerah.
Pesona masjid terbesar di kawasan pantai barat selatan Aceh itu begitu membekas bagi Farizki, wisatawan asal Tapaktuan. Sejak pertama kali melihat siluet tiga kubah megah yang menjulang di bawah langit Meulaboh, rasa kagum seakan tak mampu disembunyikannya.
Setibanya di kawasan masjid yang berada di Jalan Imam Bonjol, Kecamatan Johan Pahlawan, Farizki beberapa kali terpaku menatap detail bangunan yang berdiri megah dengan balutan ornamen khas Aceh berpadu nuansa Timur Tengah dan sentuhan modern.

“Begitu melihat dari luar, saya langsung merasa takjub. Masjid ini bukan hanya megah, tapi juga menghadirkan ketenangan,” ujar Farizki, Kamis (7/5/2026).
Dikenal sebagai salah satu ikon religi di Kabupaten Aceh Barat, Masjid Agung Baitul Makmur berdiri kokoh di atas lahan luas dengan daya tampung ribuan jemaah. Keindahan arsitekturnya bahkan membuat masjid ini masuk dalam daftar 100 masjid terindah di Indonesia.
Namun, pesona masjid ini bukan sekadar pada kemegahan bangunannya. Di balik dinding dan kubahnya, tersimpan jejak keteguhan masyarakat Meulaboh yang berhasil bangkit setelah diterpa gempa dan tsunami dahsyat tahun 2004. Masjid ini tetap berdiri kokoh, menjadi simbol harapan dan kekuatan bagi warga Aceh Barat.
Farizki mengaku mengetahui keberadaan masjid tersebut melalui media sosial dan cerita dari rekan-rekannya. Rasa penasaran membawanya menempuh perjalanan dari Tapaktuan demi menyaksikan langsung kemegahan yang selama ini hanya dilihat lewat layar.
Menurutnya, perpaduan gaya arsitektur Timur Tengah, Asia, dan sentuhan budaya Aceh menjadikan masjid tersebut tampak begitu istimewa.
“Desainnya sangat indah. Ada nuansa Aceh yang kuat, dipadukan dengan arsitektur Timur Tengah dan gaya modern yang menyatu dengan harmonis,” katanya.
Saat melangkah ke dalam masjid, kekaguman Farizki semakin bertambah. Hamparan lantai granit bernuansa cokelat muda memantulkan cahaya lembut, sementara ukiran kaligrafi Al-Qur’an yang menghiasi dinding menghadirkan suasana sakral yang menenangkan jiwa.
Di dalam ruang utama, udara terasa sejuk dan hening. Setiap sudut seakan mengajak siapa saja untuk berhenti sejenak dari hiruk-pikuk kehidupan dan menikmati kedamaian yang sulit dilukiskan dengan kata-kata.
“Di dalamnya terasa damai sekali. Tempat seperti ini membuat hati menjadi lebih tenang,” ungkapnya pelan.
Menjelang sore, suasana masjid tampak semakin memesona. Cahaya matahari senja menyapu kubah dan menara dengan semburat keemasan, menciptakan pemandangan yang memikat mata. Banyak pengunjung memilih duduk lebih lama di halaman masjid, menikmati keindahan arsitektur sekaligus suasana religius yang begitu terasa.
Sebagian pengunjung tampak mengabadikan momen dengan latar kubah megah dan pelataran luas, sementara lainnya menikmati ketenangan sembari berbincang santai bersama keluarga.
Bagi Farizki, Masjid Agung Baitul Makmur bukan sekadar destinasi wisata religi, melainkan perjalanan spiritual yang meninggalkan kesan mendalam.
“Menurut saya, masjid ini luar biasa indah dan menjadi salah satu kebanggaan masyarakat Aceh,” tuturnya.
Kini, keberadaan Masjid Agung Baitul Makmur terus menarik perhatian wisatawan dari berbagai penjuru. Perpaduan kemegahan arsitektur, nilai sejarah, dan nuansa religius menjadikan masjid ini sebagai destinasi wisata yang bukan hanya memanjakan mata, tetapi juga menyejukkan hati.(ADV)












