Gayo Lues — Di pelukan hijau Pegunungan Leuser yang menjulang anggun, tersembunyi sebuah desa yang sejak lama menjadi tempat berlabuh bagi mereka yang merindukan ketenangan alam. Desa Agusen, di Kecamatan Blangkejeren, Kabupaten Gayo Lues, pernah begitu hidup oleh langkah para pelancong yang datang menikmati kejernihan sungainya dan kesejukan alam yang masih perawan.
Waktu sempat membawa duka bagi Agusen. Banjir bandang yang menerjang pada November 2025 mengubah wajah kawasan wisata itu. Deras arus menyeret kayu, lumpur, dan bebatuan, meninggalkan luka di tepian sungai yang dahulu menjadi denyut utama kehidupan wisata desa.
Namun sebagaimana alam selalu menemukan caranya untuk pulih, demikian pula Agusen. Di balik jejak bencana yang masih tersisa, keindahan desa ini belum benar-benar hilang. Sungai-sungai pegunungan masih mengalir jernih, udara dingin masih menyapa setiap pagi, dan masyarakatnya tetap menjaga harapan agar Agusen kembali bersinar seperti dahulu.

Bagi banyak orang, Agusen bukan sekadar tujuan wisata. Ia adalah ruang untuk kembali mendengar suara alam, tempat di mana waktu berjalan lebih pelan di bawah rindangnya hutan Leuser.
Harmoni Alam di Kaki Leuser
Perjalanan menuju Agusen menghadirkan kisahnya sendiri. Jalan yang membelah perbukitan membawa pengunjung melewati hamparan hutan hijau dan kebun-kebun milik warga yang membentang di lereng pegunungan.
Udara dataran tinggi yang sejuk perlahan menyelimuti perjalanan. Di kejauhan, gugusan Pegunungan Leuser berdiri megah seperti benteng alam yang menjaga desa kecil itu sejak lama.
Dari pegunungan itulah lahir aliran sungai Agusen—jernih, dingin, dan menenangkan. Airnya mengalir di sela bebatuan besar, memantulkan warna kebiruan yang berpadu indah dengan hijaunya pepohonan di sepanjang tepian sungai.
Sebelum banjir datang, sungai ini menjadi denyut utama wisata Agusen.
Banyak wisatawan datang sekadar untuk duduk di tepian sungai, menikmati desir air dan nyanyian alam yang mengalun tanpa henti. Sebagian lainnya memilih merasakan kesegaran pemandian alami, menyusuri arus dengan tubing, hingga memacu adrenalin melalui arung jeram.
Agusen juga menawarkan kesederhanaan yang justru sulit ditemukan di tempat lain. Menyeruput kopi Gayo hangat di kebun milik warga, ditemani kabut tipis pegunungan dan suara sungai yang mengalir pelan, menjadi pengalaman sederhana yang membekas lama di ingatan.
Kepala Desa Agusen, Ramadhan, mengenang bagaimana kawasan wisata itu dahulu hampir tak pernah sepi dari pengunjung.
“Di situlah tempat pemandian para pengunjung. Dari pejabat seperti Pak Bupati Gayo Lues hingga Kapolres sering datang bersama keluarga untuk berwisata,” ujarnya.
Pada musim libur Idul Fitri, Natal, dan Tahun Baru, jumlah wisatawan bahkan mencapai ratusan hingga ribuan orang. Kehadiran mereka menjadi sumber kehidupan bagi warga yang membuka warung makan, penyewaan perlengkapan wisata, hingga jasa pemandu lokal.
Ketika Bencana Mengubah Wajah Desa
November 2025 menjadi babak yang sulit dilupakan masyarakat Agusen. Banjir bandang datang membawa material kayu dan lumpur dalam jumlah besar. Aliran sungai berubah arah, sebagian tebing runtuh, dan sejumlah titik wisata yang dahulu ramai mendadak rusak dan sunyi.
Bagi warga yang menggantungkan harapan pada sektor wisata, musibah itu menjadi pukulan yang berat.
Namun semangat masyarakat Agusen tidak ikut hanyut bersama derasnya arus banjir.
Sedikit demi sedikit, warga mulai membersihkan kawasan wisata. Dengan gotong royong, mereka menata kembali alam yang terluka, menjaga agar pesona Agusen tidak hilang ditelan waktu.
Bagi Syarifah (24), warga yang sejak kecil akrab dengan sungai Agusen, tempat itu memiliki makna yang jauh lebih dalam daripada sekadar lokasi rekreasi.
“Dulu kalau ada keluarga dari luar daerah datang, tempat pertama yang kami tunjukkan adalah sungai Agusen. Airnya sangat jernih dan suasananya tenang. Walaupun sekarang masih dalam proses pemulihan, saya tetap melihat keindahan yang sama. Alam Agusen masih sangat luar biasa,” tuturnya.
Syarifah percaya, Agusen akan kembali bangkit.
Ia masih kerap datang menikmati udara segar dan menyaksikan sendiri bagaimana warga perlahan memulihkan destinasi yang pernah menjadi primadona wisata di Gayo Lues itu.
“Kami ingin orang-orang tetap mengenal Agusen. Bukan karena bencananya, tetapi karena keindahan alam dan keramahan masyarakatnya,” katanya.
Pesona yang Tak Pernah Padam
Hari ini, jejak banjir memang masih terlihat di beberapa sudut Agusen. Namun alamnya tetap menyimpan daya tarik yang sulit ditemukan di tempat lain.
Pegunungan masih berdiri megah memeluk desa. Udara pagi tetap membawa kesejukan yang menenangkan. Sungai yang berhulu dari kawasan Leuser masih mengalir membawa keteduhan yang sama seperti dahulu.
Bahkan bagi sebagian orang, keaslian Agusen justru menjadi pesona tersendiri. Di tengah banyaknya destinasi wisata yang dipenuhi pembangunan.(ADV)












