Meniti Sunyi Rimba, Menemukan Surga Tersembunyi di Air Terjun Sangka Pane

  • Bagikan

ACEH TAMIANG — Deru mesin sepeda motor memecah sunyi jalan berbukit di Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang. Jalur sempit yang berkelok tajam itu membelah rimba hijau yang masih perawan. Kabut tipis menggantung malu-malu di sela pepohonan, sementara udara pegunungan mengalir dingin menyapa wajah para pengelana.

Minggu, 03 Mei 2026, Bambang Sanjaya (25) bersama sejumlah rekannya memilih meninggalkan hiruk-pikuk kota demi menelusuri jejak alam menuju Air Terjun Sangka Pane, permata tersembunyi di pedalaman Aceh Tamiang.

“Perjalanannya melelahkan, tapi semua langsung terbayar begitu melihat air terjunnya,” ujar Bambang dengan mata berbinar.

Kabupaten Aceh Tamiang, tanah di perbatasan Aceh dan Sumatera Utara yang dijuluki Bumi Muda Sedia, memang menyimpan bentangan alam yang memikat. Sungai-sungai jernih, hutan tropis yang lebat, hingga air terjun yang tersembunyi di balik perbukitan menjadi kekayaan yang seolah tak pernah habis diceritakan.

Di antara pesona alam itu, Air Terjun Sangka Pane menjadi salah satu destinasi yang paling dirindukan para pecinta alam. Berada di Kampung Pengidam, Kecamatan Bandar Pusaka, air terjun ini berjarak sekitar 50 kilometer dari Karang Baru, pusat pemerintahan Aceh Tamiang.

Perjalanan menuju lokasi memakan waktu sekitar satu setengah jam. Namun jalan menuju ke sana bukanlah perjalanan biasa. Tikungan tajam, tanjakan curam, dan jalan sempit menjadi ujian kecil sebelum mencapai keindahan yang tersembunyi di balik hutan. Karena itulah, sebagian besar pengunjung lebih memilih kendaraan roda dua untuk menaklukkan jalur tersebut.

Bagi Bambang, perjalanan panjang itu justru menjadi bagian paling berkesan dari petualangan mereka. Sepanjang perjalanan, hamparan hutan hujan tropis membentang seperti lukisan alam yang hidup. Udara dingin pegunungan terasa bersih dan menenangkan, sementara suara burung dan desir angin menjadi musik alam yang menemani langkah mereka.

“Sepanjang jalan rasanya seperti masuk ke dunia yang berbeda. Hutan hijau di kanan kiri dan udara yang begitu segar membuat perjalanan terasa menyenangkan,” katanya.

Meski demikian, perjalanan menuju Sangka Pane tetap membutuhkan kehati-hatian, terutama ketika musim hujan datang. Jalanan berbatu dan licin kerap menjadi tantangan tersendiri. Namun bagi mereka yang mencintai alam, medan terjal justru menghadirkan sensasi petualangan yang sulit tergantikan.

Setelah perjalanan panjang dengan kendaraan, Bambang dan rekan-rekannya tiba di area parkir sederhana milik warga. Namun perjalanan belum benar-benar usai. Mereka masih harus berjalan kaki sekitar dua kilometer menuruni jalur setapak yang curam menuju air terjun.

Langkah demi langkah menembus rimbunnya pepohonan terasa seperti perjalanan menuju sebuah rahasia alam. Dari kejauhan mulai terdengar gemericik air yang samar, seakan memanggil siapa saja yang datang untuk segera mendekat.

“Begitu suara air terdengar, rasa lelah langsung hilang,” ujar Bambang.

Tak lama kemudian, Air Terjun Sangka Pane akhirnya menampakkan dirinya. Air jernih mengalir deras di antara bebatuan besar, jatuh bertingkat-tingkat dari ketinggian, menciptakan panorama yang begitu megah sekaligus menenangkan. Tebing batu yang menjulang dan hijaunya pepohonan di sekelilingnya membuat tempat itu terasa seperti surga kecil yang tersembunyi di tengah hutan.

Udara dingin bercampur embusan angin pegunungan menghadirkan ketenteraman yang sulit dijelaskan. Sebagian pengunjung duduk menikmati suasana di atas batu-batu besar, sementara lainnya bermain air di kolam alami yang terbentuk di bawah air terjun.

Bambang mengaku terpesona oleh kejernihan air Sangka Pane yang terasa begitu segar dan murni.

“Airnya sangat jernih. Tempat seperti ini sekarang sudah jarang ditemukan,” katanya lirih.

Keindahan Sangka Pane bukan hanya terletak pada derasnya aliran air, tetapi juga pada susunan air terjun yang bertingkat-tingkat. Belasan aliran dengan ukuran berbeda mengalir di sela bebatuan, sebagian jatuh lembut seperti tirai alam, sebagian lagi menghantam batu dengan suara gemuruh yang menggema di tengah hutan.

Setiap sudut menghadirkan pesona yang berbeda. Banyak pengunjung mengabadikan momen di tempat itu, sementara sebagian lainnya memilih diam menikmati tenangnya alam yang masih terjaga.

Menjelang sore, suasana di sekitar air terjun berubah semakin syahdu. Cahaya matahari yang menembus sela pepohonan memantulkan warna keemasan di permukaan air. Gemuruh air berpadu dengan suara alam menciptakan harmoni yang membuat siapa pun enggan beranjak pulang.

Bagi masyarakat sekitar, Air Terjun Sangka Pane bukan sekadar destinasi wisata, melainkan kebanggaan yang hidup di tengah hutan mereka. Kehadiran wisatawan turut menghidupkan ekonomi warga melalui jasa parkir, warung kecil, hingga pemandu wisata lokal.

Namun di balik pesonanya, Bambang berharap keindahan Sangka Pane tetap dijaga agar tidak rusak oleh sampah dan aktivitas yang berlebihan.

“Alam seperti ini harus dijaga bersama. Kalau rusak, yang hilang bukan hanya keindahannya, tapi juga ketenangan yang ada di dalamnya,” ujarnya.

Perjalanan menuju Air Terjun Sangka Pane memang bukan perjalanan yang mudah. Jalan terjal, tikungan panjang, dan jalur berbatu menjadi bagian dari kisah yang harus dilalui. Namun semua itu terasa sepadan ketika akhirnya berdiri di hadapan air terjun megah yang tersembunyi di jantung hutan Aceh Tamiang.

Bagi Bambang Sanjaya, perjalanan itu bukan sekadar wisata akhir pekan. Di balik derasnya air dan sunyinya hutan, ia menemukan sesuatu yang lebih dalam—ketenangan, kekaguman, dan rasa syukur atas alam Aceh yang masih begitu indah dan terjaga.(ADV)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *