Menelusuri Arus Sungai Alas, Menyibak Pesona Sampuran Manuk

  • Bagikan

ACEH TENGGARA — Pagi baru saja merekah ketika cahaya matahari perlahan jatuh di permukaan Sungai Alas. Alirannya mengular tenang membelah pedalaman Aceh Tenggara, sementara gugusan bukit hijau berdiri anggun di kejauhan, seolah menjaga rahasia alam yang belum banyak tersentuh.

Di tepian sungai, sebuah perahu motor kecil mulai bersiap meninggalkan dermaga sederhana. Deru mesinnya memecah sunyi pagi, membawa para penumpang menuju Lawe Bengkung—sebuah sudut alam yang menyimpan keelokan tersembunyi bernama Air Terjun Sampuran Manuk.

Di antara penumpang, Lestari Dewi Suci (25) tampak menikmati perjalanan dengan sorot mata penuh kagum. Sesekali ia mengangkat telepon genggam, mengabadikan lekuk sungai, hutan rindang, dan langit yang perlahan membuka hari.

Perjalanan menuju Sampuran Manuk bukan sekadar perjalanan wisata. Ia adalah perjalanan panjang yang menuntut waktu, tenaga, dan kesabaran. Namun justru di sanalah letak pesonanya.

“Perjalanannya memang jauh, tapi begitu melihat air terjunnya, semua lelah seperti hilang,” ujar Lestari sambil tersenyum.

Sampuran Manuk berada di kawasan Lawe Bengkung, di muara Sungai Alas yang berbatasan antara Kota Subulussalam dan Kabupaten Aceh Tenggara. Tempat ini dikenal sebagai salah satu permata alam yang unik, sebab aliran air terjunnya jatuh langsung ke sungai besar—menciptakan panorama langka yang sulit ditemukan di tempat lain.

Untuk mencapai lokasi, pengunjung harus menyusuri Sungai Alas dari Desa Salim Pipit, Kecamatan Babul Rahmah, menggunakan sampan atau perahu motor. Sepanjang perjalanan, suara mesin perahu berpadu dengan gemuruh air sungai, sementara hutan lebat di kiri dan kanan menghadirkan pemandangan liar yang memanjakan mata.

Bagi Lestari, perjalanan sungai justru menjadi bagian paling mengesankan.

“Rasanya seperti sedang masuk ke dunia yang jauh dari keramaian. Ada hutan, tebing, dan sungai yang masih sangat alami. Seperti petualangan kecil di tengah alam,” katanya.

Meski akses menuju Sampuran Manuk tergolong menantang, hal itu tak pernah menyurutkan langkah para pencinta alam. Selain jalur sungai, lokasi ini juga dapat ditempuh lewat perjalanan darat selama sekitar tiga jam. Medan panjang dan perjalanan melelahkan justru menjadi harga yang terasa sepadan ketika keindahan itu akhirnya tersingkap di depan mata.

Setelah lama menyusuri aliran Sungai Alas, suara gemuruh air mulai terdengar samar dari kejauhan. Perlahan, di balik lekukan sungai dan rimbunnya pepohonan, Air Terjun Sampuran Manuk menampakkan dirinya.

Air putih jatuh deras dari tebing batu yang menjulang, lalu menghantam muara sungai berwarna kehijauan di bawahnya. Percikan air beterbangan bersama embun tipis yang dibawa angin, menghadirkan kesejukan yang menyelimuti seluruh kawasan.

“Begitu sampai, saya langsung terpukau. Air terjunnya unik sekali karena langsung jatuh ke sungai besar,” ujar Lestari.

Beberapa wisatawan tampak duduk di atas bebatuan, menikmati lanskap alam yang masih perawan. Sebagian lainnya bermain air di tepian sungai, merasakan dingin aliran yang turun dari pegunungan. Tak ada hiruk-pikuk kendaraan, tak ada kebisingan kota—hanya suara sungai, desir angin, dan gemuruh air terjun yang saling bersahutan.

Keindahan Sampuran Manuk menjadikannya masuk dalam daftar 30 objek wisata unggulan di Aceh Tenggara.

Namun bagi para pengunjung, daya tarik tempat ini bukan sekadar status wisata, melainkan pengalaman menyatu dengan alam yang masih terjaga keasliannya.

Pepohonan besar tumbuh rapat membentuk kanopi alami di sekitar air terjun. Dari kejauhan, suara burung liar terdengar bersahutan, sementara Sungai Alas terus mengalir tenang membawa kesejukan di tengah belantara.

“Di sini benar-benar terasa dekat dengan alam. Tidak ramai, tidak bising. Hanya ada suara sungai dan air terjun,” tutur Lestari pelan.

Menjelang sore, cahaya matahari mulai menembus sela dedaunan dan memantul di permukaan sungai. Air tampak berkilau keemasan, sementara gemuruh Sampuran Manuk tetap menggema di antara tebing dan hutan, seakan enggan membiarkan siapa pun melupakan pesonanya.

Bagi masyarakat sekitar, Sampuran Manuk bukan sekadar destinasi wisata. Ia adalah bagian dari kekayaan alam yang harus dijaga, diwariskan, dan dirawat agar tetap lestari.

Lestari kembali memandang air terjun yang jatuh tanpa henti ke aliran Sungai Alas. Di tengah sunyi alam pedalaman Aceh Tenggara, ia menemukan sesuatu yang sederhana namun sulit dicari di banyak tempat—ketenangan.

“Kadang perjalanan yang sulit justru membawa kita ke tempat yang paling indah,” ucapnya lirih.

Di sudut pedalaman Aceh Tenggara itu, Sampuran Manuk terus mengalir tenang di pelukan Sungai Alas. Keindahannya tersembunyi di balik perjalanan panjang, namun justru di sanalah pesona sejatinya tumbuh—liar, alami, dan meninggalkan jejak mendalam bagi siapa saja yang datang menyaksikannya.(Adv)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *