PIDIE — Angin laut berembus pelan membawa aroma rempah dan tumisan ikan yang menggoda dari deretan warung sederhana di pesisir Ujong Pie, Kecamatan Muara Tiga, Kabupaten Pidie. Di tempat itulah, semangkuk Mie Sure tak sekadar menjadi santapan, melainkan bagian dari cerita tentang laut, kampung halaman, dan ketenangan yang sulit ditemukan di tempat lain.
Minggu pagi, 10 Mei 2026, kawasan pesisir Ujong Pie tampak hidup sejak matahari belum terlalu tinggi. Deru sepeda motor dan mobil datang silih berganti, mengantar para pengunjung yang ingin menikmati hamparan laut sekaligus mencicipi kuliner khas Laweung yang melegenda di Aceh.
Di sebuah warung kayu yang menghadap langsung ke laut, Ahmad Santoni (50) duduk santai dengan semangkuk Mie Sure hangat di hadapannya. Uap tipis mengepul dari mangkuk, bercampur dengan aroma asin laut dan suara ombak yang pecah perlahan di bibir pantai. Sesekali pandangannya mengarah ke dermaga kecil tempat perahu-perahu nelayan beristirahat selepas melaut.

“Kalau ke sini, rasanya belum lengkap kalau belum makan Mie Sure,” ujarnya sembari tersenyum tipis.
Bagi Ahmad, Ujong Pie bukan hanya tujuan wisata kuliner. Tempat itu seperti ruang pulang yang menyimpan ketenangan. Ada sesuatu dari semilir angin pantai, aroma laut, dan cita rasa khas Mie Sure yang selalu membuat siapa pun ingin kembali.
Ujong Pie—atau oleh sebagian masyarakat disebut Ujong Pi—merupakan desa pesisir yang cukup populer di Kabupaten Pidie. Kawasan ini dikenal sebagai tempat menikmati panorama laut sekaligus surga kecil bagi pencinta kuliner tradisional Aceh.
Di antara banyak sajian khas yang dijajakan, Mie Sure menjadi ikon yang paling dicari. Hidangan mie rebus tumis itu disajikan bersama ikan tongkol atau “sure”, dengan kuah gurih yang kaya rempah dan aroma ikan yang begitu kuat menggoda selera.
Menurut Ahmad, rasa Mie Sure di Ujong Pie memiliki keistimewaan yang sulit dijelaskan dengan kata-kata.
“Kuah dan ikannya seperti menyatu sempurna. Ditambah angin laut dan suasana pantai, rasanya jadi lebih nikmat,” katanya.
Di sepanjang kawasan pantai, para pedagang tampak sibuk melayani pembeli yang terus berdatangan. Asap dari wajan penggorengan melayang ke udara, sementara suara dentingan piring, tawa pengunjung, dan obrolan hangat menciptakan suasana akrab khas pesisir.
Tak hanya kuliner, Ujong Pie juga menghadirkan panorama yang menenangkan mata. Laut Selat Malaka membentang luas di kejauhan, memantulkan cahaya matahari yang perlahan bergerak menuju senja. Ombak kecil datang dan pergi, sementara perahu-perahu nelayan tampak berlayar perlahan membelah cakrawala.
Sebagian pengunjung memilih duduk santai menikmati kopi Aceh dan semangkuk mie hangat di tepi pantai. Sebagian lain berjalan menyusuri dermaga, melihat aktivitas nelayan yang baru pulang membawa hasil laut.
“Di sini kita bisa menikmati semuanya sekaligus. Makan enak, melihat laut, dan merasakan suasana kampung nelayan yang masih alami,” ujar Ahmad.
Tak jauh dari kawasan tersebut, wisatawan juga dapat singgah ke Guha Tujoh yang cukup dikenal di wilayah Pidie. Karena berada di jalur utama Banda Aceh–Medan, Ujong Pie kerap menjadi tempat persinggahan favorit bagi pelancong yang melintasi pesisir Aceh.
Menjelang sore, suasana Ujong Pie berubah semakin syahdu. Langit perlahan berwarna jingga, memantul lembut di permukaan laut yang tenang. Beberapa pengunjung masih bertahan di warung-warung sederhana, menikmati kopi panas dan semangkuk Mie Sure terakhir sebelum pulang.
Bagi masyarakat setempat, ramainya wisatawan menjadi berkah yang menghidupkan roda ekonomi pesisir. Warung makan, nelayan, hingga pelaku usaha kecil merasakan manfaat dari datangnya para pengunjung.
Namun di balik keramaian itu, Ahmad berharap Ujong Pie tetap menjaga kesederhanaan dan keasriannya.
“Yang membuat orang rindu datang ke sini itu suasananya yang masih alami dan makanannya yang khas. Itu jangan sampai hilang,” katanya.
Sore itu, ombak terdengar semakin lirih, seolah ikut mengantar langkah para pengunjung yang perlahan meninggalkan pantai. Di balik kesederhanaannya, Ujong Pie menyimpan kehangatan yang sulit dilupakan—tentang semangkuk Mie Sure, aroma laut, dan ketenangan kampung pesisir yang diam-diam menetap lama di hati.(Adv)












