Menanti Senja di Ujong Serangga

  • Bagikan

ABDYA – Angin laut berembus pelan menyapu pesisir Pantai Ujong Serangga, Kecamatan Susoh, Kabupaten Aceh Barat Daya, Minggu sore, 03 Mei 2026. Langit perlahan berubah jingga, sementara debur ombak bersahutan dengan suara nelayan yang baru kembali dari laut.

Di hamparan pantai yang luas itu, anak-anak berlarian di atas pasir, para pedagang mulai menata dagangan, dan pengunjung duduk santai menikmati senja yang perlahan turun ke cakrawala.

Suasana sore di Ujong Serangga selalu menghadirkan ketenangan tersendiri. Tidak hanya menjadi tempat melepas penat, pantai ini juga menjadi ruang berkumpul masyarakat menikmati akhir pekan bersama keluarga.

Di antara ramainya pengunjung, Andi Arsyad (36) tampak duduk santai di bibir pantai bersama istri dan anak-anaknya. Sesekali ia memandangi laut lepas sambil mengawasi anak-anak bermain pasir.

Baginya, Ujong Serangga bukan sekadar destinasi wisata, melainkan tempat sederhana untuk menikmati kebersamaan di tengah kesibukan sehari-hari.

“Kalau hari libur saya memang sering ajak keluarga ke sini. Tempatnya luas, anginnya sejuk, dan anak-anak juga senang bermain di pantai,” ujar Andi sambil tersenyum melihat matahari mulai condong ke ufuk barat.

Pantai Ujong Serangga memang memiliki daya tarik khas yang sulit ditemukan di tempat lain.

Hamparan pasir yang panjang membuat kawasan ini nyaman dijadikan lokasi bersantai, berjalan kaki, hingga menikmati suasana laut yang tenang.

Tidak hanya sore hari, kawasan pantai juga ramai dikunjungi masyarakat sejak pagi untuk berolahraga, berburu kuliner laut, atau sekadar menikmati udara segar khas pesisir.

Namun, keunikan Ujong Serangga bukan hanya tentang panorama alamnya.

Di kawasan yang sama berdiri Pusat Pendaratan Ikan (PPI), tempat aktivitas nelayan berlangsung setiap hari. Perahu-perahu bersandar di tepi dermaga, para nelayan membongkar hasil tangkapan, sementara pedagang sibuk melakukan transaksi ikan segar.

Pemandangan itu menghadirkan suasana khas kampung nelayan yang hidup dan autentik.

“Anak-anak senang melihat kapal-kapal nelayan bersandar. Kadang mereka juga penasaran melihat ikan hasil tangkapan. Jadi bukan hanya jalan-jalan, tapi ada pengalaman berbeda,” kata Andi.

Menjelang senja, langit Ujong Serangga semakin memukau. Cahaya jingga memantul di permukaan laut, menciptakan panorama indah yang membuat banyak pengunjung berhenti sejenak untuk mengabadikan momen dengan telepon genggam mereka.

Sejumlah remaja duduk berjajar di atas pasir, sementara keluarga lainnya menikmati jagung bakar dan minuman hangat dari warung-warung kecil di sekitar pantai.

Bagi masyarakat Aceh Barat Daya, sunset di Ujong Serangga seolah menjadi pertunjukan alam yang selalu dirindukan. Banyak pengunjung datang hanya untuk menikmati perubahan warna langit saat matahari perlahan tenggelam di balik laut.

“Kalau sudah sore begini suasananya tenang sekali. Rasanya pikiran jadi lebih rileks,” ujar Andi pelan.

Di balik keindahan senjanya, Pantai Ujong Serangga juga menjadi denyut ekonomi masyarakat pesisir. Aktivitas wisata berjalan berdampingan dengan perdagangan hasil laut yang menjadi sumber penghidupan warga. Nelayan, pedagang ikan, hingga pelaku usaha kecil menggantungkan rezeki mereka dari kawasan pantai tersebut.

Kesadaran menjaga kebersihan pantai pun perlahan tumbuh seiring meningkatnya jumlah wisatawan. Pemerintah daerah bersama masyarakat rutin menggelar gotong royong dan aksi bersih pantai agar kawasan wisata tetap nyaman dan asri.

Sore itu, ketika matahari hampir tenggelam sempurna, langit Ujong Serangga berubah menjadi perpaduan jingga kemerahan yang memantul indah di permukaan laut. Ombak kecil menyapu bibir pantai, sementara suara tawa anak-anak masih terdengar di kejauhan.

Andi Arsyad kembali menatap laut dengan wajah tenang. Di tengah kesederhanaan pantai nelayan itu, ia menemukan kebahagiaan sederhana bersama keluarga—menikmati angin laut, memandangi perahu-perahu yang pulang, dan menyaksikan matahari perlahan hilang di cakrawala.

Pantai Ujong Serangga bukan sekadar tentang laut dan pasir. Ia adalah ruang tempat masyarakat berkumpul, tempat nelayan menggantungkan hidup, sekaligus tempat keluarga menciptakan kenangan kecil yang akan selalu dikenang.
(adv)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *