Menikmati Teduhnya Ekowisata Mangrove Aceh Jaya, Pesona Hijau di Pesisir Barat Aceh

  • Bagikan

ACEH JAYA — Hembusan angin laut berembus perlahan menyapu pesisir Gampong Baro Sayeung, Kecamatan Setia Bakti, Kabupaten Aceh Jaya. Di tengah suasana yang damai itu, deretan pohon mangrove menjulang rapi, membentuk lorong-lorong hijau yang menaungi kawasan pesisir dengan kesejukan alami. Dari sela pepohonan bakau, suara burung liar bersahut-sahutan, berpadu dengan desir daun yang menari disentuh angin.

Kawasan Ekowisata Mangrove Aceh Jaya siang itu tampak ramai dikunjungi wisatawan lokal. Salah satunya Aulia Prasetya (30), yang datang bersama beberapa rekannya untuk menikmati lanskap pesisir yang menawarkan ketenangan berbeda dari hiruk-pikuk destinasi wisata pada umumnya.

“Tempatnya nyaman sekali. Begitu masuk kawasan mangrove, suasananya langsung terasa sejuk dan tenang,” ujar Aulia sembari menikmati panorama di sepanjang titian kayu yang membelah hutan bakau itu.

Aceh Jaya selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah di pesisir Barat-Selatan Aceh yang kaya akan pesona alam. Tidak hanya menghadirkan keindahan pantai dan pegunungan, daerah ini juga menyimpan wisata ekologi yang memikat, salah satunya Ekowisata Mangrove di Gampong Baro Sayeung.

Lokasinya cukup strategis, tidak jauh dari Jalan Nasional Banda Aceh–Meulaboh. Dari pusat Kota Calang, perjalanan menuju kawasan ini hanya memakan waktu sekitar 8 hingga 12 menit, dengan jarak tempuh kurang lebih enam kilometer. Akses yang mudah membuat tempat ini menjadi pilihan favorit masyarakat yang ingin menikmati wisata alam tanpa harus bepergian jauh.

Bagi Aulia, perjalanan singkat menuju kawasan mangrove justru menghadirkan pengalaman tersendiri. Sepanjang perjalanan, hamparan pepohonan hijau dan suasana pesisir Aceh Jaya menghadirkan ketenangan yang perlahan menghapus penat.

Sesampainya di lokasi, nuansa alami langsung terasa menyelimuti kawasan. Titian kayu yang membentang di tengah rimbunnya mangrove menjadi daya tarik utama bagi para pengunjung. Dari atas jalur itu, wisatawan dapat menikmati bentangan hutan bakau yang hijau sembari menghirup udara segar khas pesisir.

“Di sini kita bisa santai sambil menikmati alam. Cocok sekali untuk melepas penat,” kata Aulia.

Tak hanya menawarkan panorama yang memanjakan mata, kawasan Ekowisata Mangrove ini juga menghadirkan nilai edukasi tentang pentingnya menjaga ekosistem pesisir. Pohon-pohon bakau yang tumbuh di kawasan tersebut memiliki peran penting dalam menahan abrasi pantai sekaligus menjadi habitat bagi berbagai biota laut.

Di beberapa sudut kawasan, pengunjung dapat menyaksikan kehidupan satwa kecil yang hidup di sekitar akar mangrove. Kepiting bakau sesekali muncul dari permukaan lumpur, sementara burung-burung liar beterbangan di antara rimbun pepohonan.

Bagi pecinta fotografi, kawasan ini menghadirkan banyak sudut estetik yang memikat. Cahaya matahari yang menembus celah dedaunan mangrove menciptakan siluet dan pantulan cahaya yang indah, menjadikan setiap sudut terasa layak diabadikan.

Aulia mengaku terkesan dengan suasana alami yang masih terjaga di kawasan tersebut. Menurutnya, Ekowisata Mangrove Aceh Jaya memiliki potensi besar menjadi destinasi unggulan yang mampu menarik lebih banyak wisatawan.

“Tempat seperti ini penting dijaga karena bukan hanya untuk wisata, tapi juga untuk lingkungan,” ujarnya.

Menjelang sore, suasana kawasan mangrove terasa semakin syahdu. Cahaya matahari perlahan berubah keemasan, memantul lembut di permukaan air di sela akar-akar bakau. Sebagian pengunjung tampak duduk santai menikmati suasana, sementara lainnya berjalan perlahan di atas titian kayu sambil mengabadikan momen senja.

Keberadaan Ekowisata Mangrove di Gampong Baro Sayeung menjadi bukti bahwa Aceh Jaya tidak hanya kaya akan wisata pantai, tetapi juga memiliki pesona ekowisata yang menenangkan jiwa. Di tengah geliat wisata modern, kawasan mangrove ini menghadirkan pengalaman sederhana yang sarat makna, mengajak setiap pengunjung kembali menyatu dengan alam.

Bagi Aulia Prasetya, kunjungan ke Ekowisata Mangrove pada Kamis, 14 Mei 2026 itu menjadi pengalaman yang membekas. Bukan sekadar menikmati keindahan alam, tetapi juga merasakan keteduhan dan ketenangan di tengah hijaunya hutan bakau yang tumbuh di pesisir Aceh Jaya. (adv)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *