Menyibak Pesona Tamsar 27, Permata Bertingkat di Rimba Aceh Tamiang

  • Bagikan

ACEH TAMIANG — Kabut pagi masih menggantung tipis di sela pepohonan ketika Abdul Salam (32) bersama beberapa rekannya memulai perjalanan menuju Tamsar 27 di Kecamatan Bandar Pusaka, Kabupaten Aceh Tamiang. Jalan tanah yang membelah hamparan perkebunan sawit tampak licin selepas hujan semalam. Roda kendaraan beberapa kali harus melambat, menaklukkan genangan dan bebatuan yang menghadang di sepanjang jalur.

Namun medan yang berat tak pernah menyurutkan langkah mereka. Sebab di balik perjalanan panjang itu, tersembunyi sebuah mahakarya alam yang membuat siapa pun rela datang kembali. Tamsar 27—air terjun bertingkat yang kerap dijuluki surga tersembunyi di pedalaman Aceh Tamiang—kini kembali berdenyut setelah sempat diterjang banjir pada akhir tahun lalu.

“Begitu sampai, semua rasa lelah langsung hilang. Tempat ini benar-benar luar biasa,” ujar Abdul Salam sambil beristirahat di tepian jalur.

Minggu, 10 Mei 2026, kawasan wisata Tamsar 27 kembali dipadati pengunjung. Mereka datang dari berbagai daerah di Aceh, bahkan luar provinsi, demi menyaksikan langsung keindahan air terjun yang selama ini hanya sering terdengar dari cerita para pelancong.

Aceh Tamiang sendiri dikenal sebagai negeri yang masih menyimpan bentang alam liar dan alami. Sungai-sungai jernih, hutan tropis yang lebat, hingga deretan air terjun menjadi magnet bagi para pencinta petualangan. Di antara pesona itu, Tamsar 27 berdiri sebagai salah satu destinasi paling memikat.

Terletak di Kampung Bengkelang, Kecamatan Bandar Pusaka, Tamsar 27 memiliki keunikan pada aliran airnya yang membentuk 27 undakan batu alami. Air berwarna kebiruan mengalir jernih melewati susunan batu raksasa bertingkat, menghadirkan panorama yang seolah lahir dari lukisan alam.

Perjalanan menuju lokasi bukan perkara mudah. Pengunjung harus melintasi perkebunan sawit, menyeberangi jembatan kayu sederhana, hingga melewati aliran sungai alami yang membelah jalur.

Namun justru di sanalah letak pesonanya.

“Perjalanannya seperti sebuah petualangan. Kita melewati hutan, sungai, dan jalan kecil yang sunyi. Itu yang membuat tempat ini terasa begitu istimewa,” kata Abdul Salam.

Sepanjang perjalanan, hutan tropis menyambut dengan suasana yang nyaris purba. Pepohonan besar menjulang tinggi di kanan kiri jalan setapak, sementara suara burung liar dan serangga bersahutan dari kejauhan. Udara pegunungan yang dingin dan bersih membuat langkah terasa ringan meski tubuh mulai lelah.

Sesekali rombongan wisatawan berhenti, menikmati panorama hijau yang terbentang atau mengabadikan momen di tengah perjalanan menuju air terjun.

Lalu, setelah perjalanan panjang itu, suara gemuruh air mulai terdengar samar dari balik rimbun pepohonan. Tak lama kemudian, panorama Tamsar 27 akhirnya menampakkan diri—air yang jatuh melewati batu-batu bertingkat berpadu dengan hijaunya hutan, menciptakan pemandangan yang sulit dilupakan.

Abdul Salam mengaku sempat terpaku saat pertama kali melihat keindahan air terjun tersebut dari dekat.

“Airnya sangat jernih, suasananya masih alami sekali. Rasanya seperti berada jauh dari hiruk-pikuk dunia,” tuturnya.

Keunikan Tamsar 27 memang terletak pada susunan batu bertingkat yang membentuk aliran air alami. Setiap tingkatan menghadirkan wajah yang berbeda—ada aliran kecil yang tenang, ada pula arus deras yang membentuk kolam-kolam alami berwarna kehijauan.

Tak sedikit wisatawan memilih berenang atau sekadar berendam menikmati dinginnya air pegunungan. Begitu beningnya air di sana hingga dasar bebatuan terlihat jelas dari permukaan.

Bukan hanya air terjunnya yang memikat, kawasan Tamsar 27 juga menyimpan ekosistem hutan yang masih terjaga. Beberapa pengunjung mengaku pernah melihat ikan air tawar langka di aliran sungai sekitar lokasi. Bahkan kawasan hutan Bandar Pusaka masih menjadi habitat satwa liar, termasuk orang utan.

Keaslian alam itu membuat banyak wisatawan memilih tinggal lebih lama. Sebagian anak muda mendirikan tenda di kawasan Bukit Atas Awan sebelum melanjutkan perjalanan menuju Tamsar 27 pada pagi harinya.

“Kalau malam suasananya sangat tenang. Udara dingin, suara alam terdengar jelas, lalu pagi harinya langsung menuju air terjun. Rasanya lengkap,” ujar Abdul Salam.

Kehadiran wisatawan perlahan membawa kehidupan baru bagi masyarakat sekitar. Warga mulai membuka warung kecil, penginapan sederhana, hingga menjual suvenir bagi para pengunjung yang datang.

Kini, pada akhir pekan dan musim libur panjang, ratusan wisatawan dapat memadati kawasan tersebut. Tempat yang dahulu hanya dikenal masyarakat lokal perlahan menjelma menjadi ikon wisata alam Aceh Tamiang.

Meski demikian, Abdul Salam berharap keaslian Tamsar 27 tetap dijaga dari sampah maupun aktivitas wisata yang merusak alam.

“Yang membuat tempat ini istimewa adalah alamnya yang masih asli. Itu yang harus dijaga bersama,” katanya.

Menjelang senja, cahaya matahari menembus sela pepohonan dan memantul di aliran air bertingkat. Gemuruh air terjun berpadu dengan sunyi hutan, menciptakan ketenangan yang membuat siapa pun enggan beranjak pulang.

Bagi Abdul Salam, perjalanan ke Tamsar 27 bukan sekadar wisata alam biasa. Ia adalah perjalanan menyusuri sisi liar Aceh Tamiang—tentang hutan yang masih perawan, air yang tetap jernih, dan alam yang diam-diam menyimpan keajaiban bagi siapa saja yang datang mencarinya.(ADV).

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *