ABDYA — Kabut tipis masih menggantung di pucuk-pucuk pepohonan ketika pagi perlahan membuka hari di Aceh Barat Daya, Minggu, 17 Mei 2026.
Sisa hujan semalam meninggalkan aroma tanah basah yang menguar lembut bersama embusan angin dari perbukitan.
Dari sudut kota yang mulai sibuk oleh lalu-lalang kendaraan dan suara pasar, Gunung Kila berdiri tenang dalam balutan hijau, seperti penjaga tua yang setia menyimpan kisah alam dan sejarah di dadanya.
Tak jauh dari pusat kota—hanya sekitar 750 meter—kawasan itu menghadirkan dunia yang berbeda. Udara terasa lebih dingin, suara alam terdengar lebih jelas, dan waktu seakan berjalan lebih lambat di bawah rindangnya hutan tropis.

Di kaki gunung, Saipul Hamid (29), yang akrab disapa Bang Saipul, tampak bersiap memulai perjalanan menuju kawasan air terjun bersama beberapa rekannya.
Dengan tas kecil menggantung di punggung dan langkah santai menyusuri jalan setapak, ia mengaku Gunung Kila bukan tempat asing dalam hidupnya. Sejak remaja, kawasan itu telah menjadi ruang pelarian dari penat sekaligus tempat mencari ketenangan.
“Kalau sudah masuk ke kawasan Gunung Kila, suasananya beda sekali. Padahal dekat dari kota, tapi udaranya sejuk dan tenang,” ujar Bang Saipul sambil memandang pepohonan tinggi yang menaungi jalur pendakian.
Gunung Kila memang bukan sekadar bentang alam hijau yang memanjakan mata. Di balik rimbun pepohonannya, kawasan ini menyimpan jejak sejarah yang masih hidup di tengah masyarakat Aceh Barat Daya. Di sana terdapat makam Teungku di Kila, tokoh yang dihormati dan dikenang sebagai bagian penting dari perjalanan sejarah daerah tersebut.
Bagi warga setempat, Gunung Kila bukan hanya destinasi wisata, melainkan ruang sunyi tempat alam, sejarah, dan tradisi bertemu dalam harmoni yang nyaris tak berubah oleh waktu.
Perjalanan menuju air terjun dimulai melalui jalur tanah yang diapit semak liar dan pepohonan tropis berusia tua. Suara burung hutan bersahutan dari kejauhan, berpadu dengan gemericik air kecil yang mengalir di sela bebatuan. Di beberapa titik, akar-akar pohon menjalar keluar dari tanah, membentuk pijakan alami yang menghadirkan tantangan sekaligus keindahan bagi para pendaki.
Bang Saipul mengatakan, setiap akhir pekan kawasan Gunung Kila selalu dipenuhi pengunjung, mulai dari anak muda hingga keluarga yang datang untuk menikmati suasana alam.
“Biasanya orang datang untuk mandi di air terjun atau sekadar duduk santai menikmati udara segar. Ada juga yang naik sampai ke atas untuk melihat pemandangan,” katanya.
Tak lama berjalan, suara gemuruh air mulai terdengar dari balik lebatnya pepohonan.
Air terjun Gunung Kila mengalir jernih di antara batu-batu besar yang diselimuti lumut hijau. Percikan airnya menghadirkan hawa dingin yang langsung menyentuh kulit. Beberapa pengunjung tampak duduk di atas batu sambil merendam kaki, sementara anak-anak bermain air dengan tawa yang memecah sunyi hutan.
Keaslian alam itulah yang membuat Gunung Kila terus memiliki tempat di hati masyarakat lokal. Belum banyak sentuhan fasilitas modern di kawasan ini, namun justru kesederhanaannya menghadirkan pesona yang sulit ditemukan di tempat lain.(Adv)












