Nasir Nurdin: Meniti Jalan Pers, Merawat Kepedulian Kemanusiaan

  • Bagikan
Nasir Nurdin

BANDA ACEH — Berita lahir dari peristiwa, tumbuh melalui fakta, lalu sampai kepada publik sebagai informasi. Namun, bagi Nasir Nurdin, perjalanan di dunia jurnalistik tak berhenti di ruang redaksi. Pengabdiannya meluas ke dunia komunikasi dan kemanusiaan, terutama ketika masyarakat menghadapi bencana.

Lahir di Meulaboh pada 17 November 1960, Nasir merupakan wartawan senior yang telah menapaki beragam peran dalam ekosistem pers Aceh. Dari wartawan lapangan, ia melangkah ke ruang redaksi hingga dipercaya memimpin sejumlah media. Di luar jurnalistik, ia juga pernah memimpin Radio Antar Penduduk Indonesia (RAPI) dan Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Aceh, serta menjabat Wakil Ketua Palang Merah Indonesia (PMI) Provinsi Aceh.

Perjalanan panjang itu menjadi bagian dari rekam jejaknya menjelang kontestasi kepemimpinan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Aceh periode 2026–2031.

 

Dari Lapangan ke Ruang Redaksi

 

Karier jurnalistik Nasir dimulai pada 1993, ketika bergabung sebagai wartawan lapangan Harian Serambi Indonesia. Dari jalanan, peristiwa, dan suara masyarakat, ia belajar bahwa berita bukan sekadar rangkaian kata, melainkan hasil pencarian fakta, ketekunan, dan tanggung jawab kepada publik.

Pengalaman meliput memberinya kesempatan menyaksikan langsung dinamika kehidupan masyarakat Aceh. Beragam peristiwa mengajarkannya bahwa di balik sebuah berita selalu ada manusia, kepentingan, dan kenyataan yang perlu dipahami secara utuh.

Dari lapangan, Nasir kemudian dipercaya menjadi Wakil Redaktur Pelaksana Serambi Indonesia. Peran itu memperluas tanggung jawabnya, dari menghimpun informasi menjadi turut mengawal proses pengolahan berita sebelum sampai kepada pembaca.

Kariernya berlanjut sebagai Pemimpin Redaksi The Aceh Post dan Portalnusa.com. Dalam posisi tersebut, ia mengemban tanggung jawab editorial, menjaga arah pemberitaan, serta mengawal kualitas informasi yang disajikan kepada masyarakat.

Perjalanan dari wartawan lapangan hingga pemimpin redaksi menjadi salah satu bab penting dalam pengabdiannya di dunia pers.

 

Ketika Komunikasi Menjadi Jembatan Kemanusiaan

Di luar ruang redaksi, Nasir menapaki bidang lain yang tak kalah penting: komunikasi radio. Ia pernah menjabat Ketua RAPI Kota Banda Aceh dan Ketua RAPI Provinsi Aceh.

Dalam situasi normal, komunikasi terasa begitu mudah melalui telepon seluler dan internet. Namun, ketika bencana merusak jaringan, komunikasi radio dapat menjadi alternatif untuk meneruskan informasi dan membantu koordinasi di lapangan.

Informasi tentang kondisi wilayah, kebutuhan mendesak, dan situasi masyarakat terdampak menjadi penting dalam menentukan langkah penanganan. Di tengah keterbatasan, komunikasi yang terjaga dapat membantu mempertemukan mereka yang membutuhkan pertolongan dengan pihak yang mampu memberikan bantuan.

 

Pengalaman Nasir di RAPI

Mempertemukannya dengan sisi lain dari informasi. Jika jurnalistik membantu masyarakat memahami peristiwa, komunikasi radio dalam keadaan darurat dapat membantu pihak-pihak terkait bertukar informasi ketika sarana komunikasi lain terganggu.

Keduanya bertumpu pada satu hal: informasi yang jelas, tepat, dan dapat diandalkan.

 

Dari Pengurangan Risiko Menuju Kesiapsiagaan

Kepedulian Nasir terhadap kebencanaan berlanjut melalui Forum Pengurangan Risiko Bencana (FPRB) Aceh. Pada periode 2017–2022, ia dipercaya memimpin forum tersebut, dengan Dr. H. Taqwaddin, S.H., S.E., M.S. sebagai Ketua Dewan Pakar.

Pengurangan risiko bencana bukan hanya tentang bertindak setelah musibah terjadi. Lebih dari itu, upaya ini menuntut kesiapan sebelum bencana datang: mengenali ancaman, memahami kerentanan, meningkatkan kapasitas masyarakat, serta membangun koordinasi antarpihak.

Pemerintah, relawan, komunitas, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam memperkuat kesiapsiagaan. Informasi yang akurat juga menjadi bagian penting agar potensi risiko dapat dipahami dan langkah antisipasi disusun secara tepat.

Dalam konteks ini, pengalaman jurnalistik dan komunikasi radio menjadi bekal yang relevan. Kemampuan menyampaikan informasi, membangun jaringan, dan memahami kebutuhan masyarakat merupakan unsur penting dalam upaya pengurangan risiko bencana.

Bencana memang tak selalu dapat dicegah. Namun, dampaknya dapat diupayakan agar tidak semakin besar melalui kesiapan, kerja sama, dan kepedulian bersama.

 

Mengabdi Melampaui Ruang Redaksi

Perjalanan Nasir Nurdin memperlihatkan persinggungan antara profesi jurnalistik, komunikasi, dan kemanusiaan. Ketiganya memiliki ruang kerja berbeda, tetapi sama-sama membutuhkan kepercayaan, ketepatan informasi, dan tanggung jawab terhadap masyarakat.

Kini, ketika ia kembali berada dalam kontestasi kepemimpinan PWI Aceh periode 2026–2031, rekam jejak tersebut menjadi bagian dari perjalanan yang layak dicermati.

Memimpin organisasi wartawan tentu bukan sekadar perkara jabatan. Ada tanggung jawab untuk menjaga martabat profesi, memperkuat solidaritas, meningkatkan kompetensi wartawan, serta memastikan kebebasan pers berjalan seiring dengan kepatuhan terhadap kode etik jurnalistik.

Pada akhirnya, perjalanan seorang wartawan tidak hanya diukur dari panjangnya masa pengabdian atau banyaknya jabatan yang pernah diemban. Lebih dari itu, ia tercermin dari cara menjaga integritas, memperjuangkan kepentingan publik, dan menghadirkan manfaat bagi masyarakat.

Di antara berita yang ditulis, komunikasi yang dijaga, dan kepedulian yang dirawat, Nasir Nurdin menapaki jalan pengabdian yang melampaui batas ruang redaksi. ( Sumber : Portalnusa)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *