ACEH TENGGARA — Kabut tipis masih menggantung di sela pepohonan ketika pagi perlahan menyapa kawasan Lawe Gerger, Minggu, 10 Mei 2026. Di tengah rimbunnya hutan Kecamatan Ketambe, Kabupaten Aceh Tenggara, suara gemericik air berpadu dengan aroma belerang yang khas, menciptakan suasana yang menenangkan sejak langkah pertama tiba di kawasan itu.
Udara pegunungan terasa dingin menusuk kulit. Namun, kepulan uap dari kolam air panas alami menghadirkan kehangatan yang seolah memanggil siapa saja untuk segera berendam dan melepas lelah.
Di salah satu sudut kolam, Hamida Ariska (26) tampak duduk santai sambil merendam kaki ke dalam air hangat yang mengalir langsung dari sumber pegunungan. Sesekali ia memandang hamparan hijau di sekelilingnya, menikmati ketenangan yang sulit ditemukan di tengah hiruk-pikuk kehidupan sehari-hari.

“Kalau datang ke sini rasanya tenang sekali. Udara dingin, airnya hangat, dan suasana hutannya masih alami,” ujar Hamida sambil tersenyum.
Lawe Gerger, atau yang akrab disebut warga sebagai Lawe Ger-ger, memang telah lama menjadi salah satu destinasi wisata alam favorit di Aceh Tenggara. Berada di Gampong Jongar, Kecamatan Ketambe, pemandian air panas alami ini dikenal karena kandungan belerangnya yang dipercaya baik untuk tubuh sekaligus menghadirkan sensasi relaksasi alami di tengah hutan pegunungan.
Perjalanan menuju lokasi menjadi pengalaman yang tak kalah memikat. Dari jalan utama, pengunjung harus menempuh perjalanan sekitar dua kilometer melewati jalur hijau yang dipenuhi pepohonan besar dan udara yang begitu segar. Di sepanjang perjalanan, bentang alam pegunungan yang masih asri menghadirkan suasana seperti memasuki dunia lain—sunyi, damai, dan jauh dari kebisingan kota.
Bagi Hamida, perjalanan menuju Lawe Gerger justru menjadi bagian yang paling berkesan.
“Sepanjang jalan pemandangannya indah sekali. Hutannya masih hijau dan udaranya benar-benar segar,” katanya.
Saat akhir pekan dan hari libur tiba, kawasan Lawe Gerger selalu dipenuhi pengunjung dari berbagai daerah. Banyak keluarga datang untuk menikmati hangatnya air belerang alami, sementara sebagian lainnya memilih duduk santai di bawah rindangnya pepohonan sambil menikmati suasana pegunungan.
Air panas di tempat itu mengalir langsung dari perut bumi. Uap tipis terus mengepul dari permukaan kolam, menciptakan pemandangan yang begitu khas di tengah udara dingin pegunungan. Sebagian pengunjung percaya kandungan belerang di Lawe Gerger dapat membantu meredakan pegal-pegal dan membuat tubuh terasa lebih rileks.
“Banyak orang bilang airnya bagus untuk badan, apalagi setelah lelah bekerja. Setelah berendam di sini, badan terasa lebih ringan,” ujar Hamida.
Di sekitar kolam, suara tawa pengunjung terdengar bersahutan. Anak-anak bermain air dengan riang, sementara orang dewasa duduk santai menikmati hangatnya kolam alami. Beberapa keluarga bahkan membawa tikar dan makanan untuk menikmati waktu bersama di bawah naungan pepohonan hutan.
Keindahan Lawe Gerger bukan hanya terletak pada air panasnya, tetapi juga pada alamnya yang masih terjaga. Pepohonan tinggi mengelilingi kawasan wisata, menghadirkan kesejukan yang perlahan mulai sulit ditemukan di banyak tempat. Dari kejauhan, suara burung liar sesekali terdengar memecah sunyi, menambah kesan damai yang begitu lekat dengan kawasan itu.
“Tempat ini cocok sekali untuk melepas penat. Bukan cuma mandi air panas, tapi kita juga bisa menikmati alam yang masih alami,” kata Hamida.
Pemerintah Kabupaten Aceh Tenggara melalui Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga sebelumnya juga telah melakukan pengembangan fasilitas pendukung di kawasan wisata tersebut. Sejumlah sarana pemandian dan area pendukung dibangun untuk meningkatkan kenyamanan pengunjung.
Meski demikian, sebagian wisatawan masih berharap adanya peningkatan infrastruktur dan fasilitas agar Lawe Gerger dapat berkembang menjadi destinasi unggulan yang semakin dikenal luas.
Bagi masyarakat sekitar, Lawe Gerger bukan sekadar tempat wisata. Kawasan ini juga menjadi sumber penghidupan. Saat akhir pekan tiba, pedagang makanan dan minuman mulai memenuhi area sekitar lokasi. Aroma kopi panas, jagung rebus, dan udara dingin pegunungan berpadu menciptakan suasana khas wisata alam pedesaan yang hangat dan sederhana.
Menjelang siang, pengunjung terus berdatangan. Kendaraan mulai memenuhi jalan menuju lokasi, sementara kolam air panas dipenuhi wisatawan yang ingin menikmati hangatnya air belerang alami di tengah rimba Aceh Tenggara.
Hamida kembali memandang hamparan hijau di sekitar kolam dengan wajah tenang. Baginya, Lawe Gerger adalah ruang sederhana yang mampu menghadirkan ketenangan di tengah padatnya rutinitas kehidupan.
“Kadang kita memang butuh tempat seperti ini untuk menyegarkan pikiran. Alamnya masih alami dan suasananya nyaman,” tuturnya.
Di tengah bentang pegunungan Aceh Tenggara, Lawe Gerger terus mengalirkan kehangatan bagi setiap orang yang datang singgah. Air panasnya bukan hanya menjadi tempat berendam, tetapi juga menghadirkan rasa damai, kebersamaan, dan kedekatan dengan alam—sesuatu yang perlahan mulai dirindukan banyak orang.
Lawe Gerger adalah tentang hangat yang lahir dari perut bumi, mengalir melewati hutan-hutan hijau, lalu menetap sebagai ketenangan di hati setiap pengunjung yang datang. (adv)












